Yuleng Ben Tallar dan Isyarat Mimpi
Info SS

Yuleng Ben Tallar dan Isyarat Mimpi

Beberapa waktu lalu datang pesan dari Yuleng Ben Tallar, “Terima kasih atas doa dan atensinya, saya belum mampu membalas satu persatu. Semoga tulisan ini bisa memberi pencerahan atas sakit saya. Insya Allah, Senin saya sudah bisa pulang. Kita berdoa bersama untuk semua. Amin ya rabbal alamin”.

Dari blog dan akun facebooknya Yuleng Ben Tallar, penulis novel ‘Gadis Tiyingtali (2012)’, bercerita tentang kondisinya ;

Akhirnya, tak ada tenaga yang tersisa. Paruku yang sakit tak mampu mengisi oksigen ke darahku secara maksimal. Jauh di bawah batas aman, 95%. Lemas. Tanpa tenaga.

Senin tengah malam awal bulan ini. Istriku melarikan aku ke RS Dr Soewandhie. Padahal aku memohon, ke Prof. Isnu Pradjoko saja. Esok, waktu dia praktek. Beliau yang menemukan ada jamur di paruku, setelah cukup lama tenaga medis curiga aku kena TBC. No way, menurut istriku, kondisiku memburuk. Yach…. apa boleh buat.

Begitu sampai IRD, semua siap. Maklum aku sudah beberapa kali opname di RS milik Pemkot ini. Tabung oksigen, foto torak, serta bantuan medis lainnya. Selasa dini hari aku sudah di kamar, dan tak sadarkan diri.

Awalnya, aku akan dipindah ke ICU. Dengan pengawasan intens. Dengan pemasangan sejumlah alat bantu. Tapi istriku menolak. Ia tahu aku tidak setuju. Kakakku membenarkan tradisi keluarga. Biarkan mengalir seadanya. Baru 13 jam kemudian, aku sadar. Alhamdulillah.

Beberapa hari ke depan masih tak berdaya. Anak bungsuku datang dari Jakarta. Ikut menunggu. Juga mendoakan. Padahal anaknya jelang ujian.

Sejumlah teman eks sekolah datang pula menjenguk. Juga teman pengajian mendoakan. Termasuk ustad Kholil dan cs-nya. Juga Pak Umar, dan Gus Wachid. Hubungan ke dunia Maya terputus. Setidaknya sampai kemarin dulu. Menghilang.

Ngamar kali ini terbilang yang terparah. Juga (bakal) terpanjang. Mestinya siang ini bisa pulang. Tapi kondisi belum 100% clear. Terutama di alat bantu. Semisal tabung oksigen yang kurang. Pengukur oksigen darah juga belum ada. Wheelchair. Termasuk suster. Mungkin baru siap Senin. Paslah, dua pekan.

Padahal aku sudah ingin cepat pulang. Untuk koreksi akhir dammy novel terbaruku, “Isyarat Mimpi”. Kau harus membacanya. Aku cerita tentang arwah. Tentang kehidupan di negeri Jepang. Di Paris. Di New Zealand. Di Bali. Di angan-angan seorang wanita muda dengan tiga pribadi yang beda. Sedikit horor. Dan cinta konyol.

Asyik kok… kali ini aku tak janjikan air mata. Yang telah habis di novel-novel sebelumnya –Gadis Tiyingtali, Cinta Retro, dan Menggapai Surga. Semoga aku bisa segera selesaikan koreksi, dan menerbitkan selepas lebaran nanti. Sebagai hadiah 45 tahun pernikahan kami. In sya Allah. (19:05:18)

Yuleng, di tengah sakit yang diderita, masih saja tak berhenti untuk berkarya. Kami, dulur-dulur ExSurabayaPost tentu saja berdoa agar segenap kebaikan segera menyertai semangatnya.

Tentang Yuleng Ben Tallar
(sumber : bukabuku.com)

Yuleng Ben Tallar adalah penulis novel dengan karya perdana berjudul “Gadis Tiyingtali” (2012). Novel ini bergendre seni lukis, yang sekaligus memberi wawasan tentang bisnis seni lukis itu berlangsung di masyarakat. Gadis Tiyingtali berkisah bagaimana seorang anak akhirnya bisa menemukan ibu kandungnya melalui suatu ketidaksengajaan.

Jurnalis yang juga penulis buku biografi –yang cenderung dengan gaya berkisah– ini, juga menghasilkan novel-novel “Cinta Retro” (2013), “The Newsroom” (2014), “Menggapai Surga” (segera terbit, 2015), dan “Ngaruawahia” (2010).

Sebenarnya “Ngaruawahia” adalah novel pertamanya, namun tak kunjung diterbitkan. Ada beberapa alasan novel ini tertunda terbit kendati mendapat pujian dari novelis Suparto Brata sebagai karya yang layak dipersandingkan dengan novelis asing. Masalahnya, apakah kita di timur bisa menerima jalan ceritanya, terutama sekali berkaitan dengan moral.

Loading...

One Comment

Post Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.