Wong nDleming : Mbok Jangan Mau Digobloki Pendongeng
Kolom

Wong nDleming : Mbok Jangan Mau Digobloki Pendongeng

Sakjanya mayoritas warga Indonesia ini orang baek². Rasak’kan lah, di lingkungan sekitar kehidupan berlangsung aman, tentrem, jarang ada orang gegeran secara vulgar. Anak² tetap bisa bermain dengan riang gumbira. Hanya karena ada yang menjadi korban pola ajaran agama yang sok ngarapi, sampai roti pun disuruh beragama, suasanae jadi tidak asik. Seakan² kita katut dianggap wong goblok.

Dibanding orang yang waras, jumlah orang kenthir semacam itu sak upil, tidak banyak. Namun jika ruang ekspresinya tidak ditutup maka bisa membahayakan bagi mayoritas.

Kalo merenung sambil ngopi, kok enak amat ya uripe pedagang agama? Cuma modal menghafal beberapa firman, pantun, kisah nabi², cerita² rasul, latihan akting sambil menata suara, hasilnya bisa jadi ATM.

Jika punya lima tema hasilnya sudah bisa beli motor. Duapuluh cerita bisa kredit rumah. Kalo sudah hafal tigapuluh lakon, ngoleksi wanita, ndugem ala ninja.

Orang² yang jadi penggemare mabuk khayalan. Cerita yang didengerin diceritain ke orang lain. Meski cuma angan² bin khayali, kisah tentang surga n neraka seakan sudah tergenggam, tinggal nunggu mati. Apa yang diomongin – secara logika – ndak ada yang bisa menunjukkan wujudnya

Naaah .. Orang² mabuk ajaran khayalan semacam itulah yang bikin resek. Kok dibilang orang mabuk se? Yaiyalah, wong mereka dulu memang demen mabuk. Ada yang demen ganja, sabu, putaw, cukrik, gendul topi miring, pek bi chu, sampe cap tikus ditenggak siang bolong, sampe otak’e melompong. Ujung²nya mendem wedokan, yang perempuan mabuk lanangan. Check an check in lali sembarang… Sing penting huwasik.

Naaah … Orang² kayak gitu tuh yang jadi santapan empuk pedagang cerpen. Seakan dengan mempercayai penggedabrusan pendongeng bisa mbersiin lumpur yang belepotan di tungkak’e. Dengan ge-ernya ngerasa bakal dapet tiket surga, and bin yakin gak bakal ketemu neraka.

Hei … Bangun hei, jangan ngelindur pagi pagi, kuwalat tau.. !!

Mbok segera mandi, sikat gigi, dandan yang rapi lalu cari guru sejati. Belajarlah dengan sabar agar mengetahui apa sejatinya agama. Siapa Tuhan siapa manusia, bagamaina wujud surga neraka and apa sih tujuan hidup?.

Yaaa … Manusia memang ciptaan yang sempurna lagi mulia karena diberi sortware lebih komplit dibanding malaikat maupun setan yang merupakan mahluk vvip sebelum manusia diketampilkan. Ini kalo dipahami, tapi kalo tidak?

Aku kasih sedikit bocoran dari ajaran guru sejati ya?

Bahwasanya diri manusia itu tak lain n tak bukan adalah jagat kecil yang mencerminkan jagat raya, semesta. Saking besarnya, bukan manusia yang masuk ke surga atau neraka, justru surga atau neraka yang bisa masuk ke dalam diri manusia melalui jendela agung, yaitu hati.
Kalo surga yang masuk, ati rasane seneng, masio belanja iwak pindhang, bojo mesam mesem, nyuwun emba-embo sampik ra kober kathokan. Sama konco ya rukun, dapet rezeki sedikit dibagi sedikit, dapet banyak.. pura² sedikit …

Nah ketika pura² kayak gitu tuuh .. tanpa disadari setan masuk bersama neraka. Setan nggak ada rupae tapi ada suarae, “mending nggak aku beritau kalo dapet banyak ah.” Ketika konco²e tau, seketika itulah neraka masuk dalam diri’e. Kalo neraka yang masuk, sak sakti²e orang pasti munting, ngosek, nggak kuat nyonggo panase. Merasa wirang, panase masa’ala. Sak panas²e api neraka nggak bakal mematikan, beda dengan api bumi, awak bisa jadi walang sangit, ajur mumur.

“Surga – neraka kuwi urip, dudu barang mati. Anane bareng karo uripmu. Yen wis mati, ra ono surga ra ono neraka, ” tutur Guru Sejati. Surga itu hidup. Keberadaannya bersama hidupmu. Kalau sudah mati, tidak ada surga tidak ada neraka.

Itu sebabe tujuan hidup setiap orang, apapun agamanya adalah berharap bisa kembali ke surga atau nirwana. Hidup kembali di ‘ara-ara maghsyar, ladang amalia’. Ya bumi inilah padang maghsyar, ladang untuk bekerja, amaliah.

Kalo amalnya banyak, dapat uang banyak ya bisa menikmati surga nikmat sing apik, milih bojo sing ciamik.

Kalo amalnya dikit? Ya jangan mimpi ngawin artis. Sing penting ono ambekane, toh nikmate sama.

Ngonoae.

Catatan : Rokim Dakas
Penulis adalah mantan wartawan Surabaya Post

Loading...

Post Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.