Profesi Wartawan yang Membuka Jalan Hidup Saya
Info Baru Kiprah

Profesi Wartawan yang Membuka Jalan Hidup Saya

Apa kabar, Mas Tom? Sapaan ini berlanjut jawaban hangat, “Baik”. Tetap dengan suara berat namun bersahabat. Mas Tom, panggilan akrab Teguh Wahyu Utomo, adalah awak redaksi Harian Surabaya Post tahun 1991-1997.

“Sekarang masih di dunia media. Tapi juga aktif mengajar, menulis buku, dan trainer,” ungkapnya. Di dunia media massa, perjalanan pria kelahiran Surabaya, 20 Agustus 1966 ini memang cukup panjang.

Di Surabaya Post, ia aktif sebagai wartawan berbagai bidang, hingga tercatat sebagai redaktur halaman luar negeri. Tahun 1998, ia pindah ke Harian Nusa di Bali. Tom dipercaya menjadi redaktur edisi Minggu dan redaktur halaman depan.

Tahun 1998-2002 bergabung di Timsco Media sebagai Wakil Pimpinan Redaksi Tabloid Libero dan Wakil Pimpinan Redaksi Tabloid e-Net. Timsco adalah bendera yang dikembangkan Timmy Habibie.

Perjalanan jurnalistik Tom kemudian dilanjutkan di PT Radar Surabaya, 2003 – 2004. “Saya jadi redaktur halaman depan. Lalu 2004-2007 bergabung dengan SportForecast Asia sebagai Pemimpin Redaksi SportCast. Tahun 2012-2014 jadi koresponden di superkidsindonesia.com. Dan 2016 sampai sekarang gabung di mepnews.id,” kata Tom.

Di luar itu, ia juga menjadi redaktur tamu di Majalah Pendidikan Cerdas, Majalah Islam Sakinah,
Majalah Cahaya Pena, Koran Cakrawala, dan beberapa media lainnya.

“Profesi wartawan yang membuka hidup saya. Mulai dari mahasiswa culun, hanya tahu baca buku dan turun rame-rame. Lalu bisa jadi orang, jadi profesional, dan dibayar,” kenang dosen luar biasa di UPN Veteran Jatim ini.

Jadi wartawan, lanjutnya, bisa bertemu dengan banyak orang. Dengan latar belakang dan karakter yang beragam. Ada yang baik, ada yang agak baik. Mulai dari mereka yang melakukan hal baik sampai agak baik.

“Jaman di Surabaya Post, kerjaan saya lebih banyak memantau Kantor Berita Reuters. Tapi sesekali ya berpetualangan cari berita yang lain. Apalagi saat bertugas di media lain di Bali dan Jakarta,” katanya.

Bekerja jadi wartawan tentu saja membuat perekonomian lebih baik. Setiap tanggal 25 gajian. Mulai dari Rp 250 ribu potong pajak, sampai Rp 650 ribu. Berbekal pendapatan tetap, Tom pun mulai berani kredit rumah, beli motor, dan lain-lain.

Menjadi seorang wartawan juga membuat Tom berkenalan dengan profesi lain. “Mulai dari menulis buku. Itu juga gara-gara disuruh Om Djoko Pitono bantu nyumbang tulisan tentang 100 tahun Nobel Sastra,” kenangnya.

Tom juga mulai menerjemahkan buku dan jadi dosen. Katanya, jadi pengajar itu gara-gara bertemu dengan beberapa mahasiswi UPN yang magang. Saat ditanya tentang dunia jurnalistik, mereka tidak banyak tahu. Usut punya usut, di kampus memang tidak ada pengajar dengan latar belakang dunia jurnalistik praktis.

“Saya sempat berpikir, nanti jika tiba saatnya saya akan ngajar, berbagi pengalaman dan pengetahuan tentang jurnalistik. Terus 18 bulan kemudian, saya mulai ndosen di UPN,” kata bapak satu anak ini.

Tom juga beberapa kali ikut Kelas Inspirasi. Blusukan di SD Sekar, Bojonegoro dan sempat bertemu Kang Yoto, Bupati Bojonegoro. Kemudian di Trenggalek, Magetan, Tulungagung, dan masih banyak lagi.

“Pas di Trenggalek sempat bertemu Emil Dardak. Waktu itu dia baru saja terpilih tapi belum menjabat bupati.
Saya juga beberapa kali diminta jadi nara sumber workshop menulis kreatif. Di pelosok Kabupaten Malang, Pacitan, dan lain-lain,” jelas Tom lagi.

Di MEP, Menebar Energi Positif (bersama Yusron Aminulloh), ia sempat blusukan di Binjai, Deli Serdang, Medan, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan beberapa daerah di Jawa Timur. Bolak-balik ke Balikpapan, Samarinda, sampai di kawasan transmigran Berau. (hdl)

Loading...

Post Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.