Nostalgia Kantin (1)
Nostalgia

Nostalgia Kantin (1)

Zaman masih memiliki kode berita “o” tentu saja belum dapat jatah makan di kantin Sikatan. Nasib saya sama dengan teman satu angkatan yaitu Jacky Kussoy (jks) dan Rokimdakas (roc). Ternyata para senior tahu persis kami yang masih bernasib melas ini. Ada saja diantara mereka yang menawarkan jatah makan siangnya. Karena itu saya harus pinter-pinter nguping pembicaraan para redaktur di lantai atas. Biasanya, diantara mereka ada percakapan, “menune opo?” tanya kepada teman yang sudah makan. Kalau ternyata dianggap tidak cocok, maka diantara mereka malas untuk mengambil jatah makan siangnya.

Misalnya Pak Herman Basuki (hb) tiba-tiba berkata pada saya ketika kebetulan naik menyerahkan berita. “Dik, jatah makan di kantin ambil aja.”

“Matur suwun Mas….”

Biasanya, kabar gembira ini saya beritahukan ke jks dan roc yang ada di lantai bawah sambil tertawa-tawa. Dari sorot mata mereka saya duga mereka juga berharap ada limpahan rejeki yang sama.

Dan ketika salah satu naik ke lantai dua menyerahkan berita, kami langsung bertanya: “Yok opo, oleh limpahan jatah makan siang…?”

“Gung…” jawab jks, maksudnya Gurung. Itu istilah khas dari Jacky. Hehee…. Nasiiiib… nasiiib…. (hnr)

 

Loading...

6 Comments

  1. Membuat sy jdi ingat kantin di sikatan. Kami dulu ada istilah kelompok 11. Artine kelompok sing gampang luwe. Jam 11 wis munggah hahs

    Reply
  2. Begitulah nasib pemilik kode “0”. Saya juga pernah merasakan spt itu. Cuma kalo saya larinya cari makan di depan stasiun gubeng dg menu khas sayur bayam, dadar jagung plus ikan pindang kecil. Nikmatnya luarrrr biasa. Kapan waktu saya sempat sambangin utk sekadar nostalgia bersama anak dan isteri. Pedagangnya sdh berganti meski menunya hampir sama

    Reply
    1. mas kem, warung yang biasa kita datangi di depan stasiun gubeng itu, yang pemiliknya bernama Pak Dji, orang LA (lamongan asli), sudah pindah ke belakang PDAM. Nama gangnya saya lupa, lokasinya persis di seberang stasiun gubeng baru.

      Menu khas di sini, selain yang sudah disebut mas kem, adalah rawon dan gule.

      Teman-teman yang biasa ke sini: pur, din, tedjo, dan entah siapa lagi.

      Reply
  3. Hahahaha .. sweet memory. Memiliki kode “nol” memang serasa ada nggak enaknya, sepertinya belum sahih sebagai wartawan Surabaya Post meski di luaran para relasi sudah mengakui. Karena itu awak berusaha menulis dengan baik dan seneng rasanya kalau berhasil jadi opening.
    Banyak teman yang berusaha mati2an untuk memecahkan kode nol, ada yang sampai bertahun-tahun masih “bertelur”.

    Syukur telur awak pecah dalam tempo setahun. Tidak hanya itu, entah mimpi apa, tiba-tiba Mas Herman sebagai nakhoda SP edisi Minggu meminta awak untuk jadi asistennya.

    Meski cuma dapat tunjangan Rp 75 ribu sebagai asisten redaksi, tapi itu pengalaman yang membanggakan karena banyak teman yang antri untuk bisa mendapatkan kursi itu nggak pernah dapat.

    Bermodal pengalaman itulah selepas dari Surabaya Post aku berkelana di 26 media cemacem warnanya.

    Reply

Post Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.