Media Harus Tegas dalam Kasus Video Mesum
Info Baru Kolom

Media Harus Tegas dalam Kasus Video Mesum

Sebagai media, yang menguasai teknologi informasi, seyogyanya bertindak cepat dan tegas, terkait kasus video mesum dan vulgar yang melibatkan mirip tiga pesohor Ariel ‘Nazriel Ilham’ Peterpan, Luna Maya, dan Cut Tari. Terutama media televisi. Kenyataannya, justru berulang kali mengangkatnya sebagai berita utama, yang men-jijik-an, dan menggugah rasa ingin tahu, video sesungguhnya.

Bertindak cepat dan tegas dimaksud, antara lain bisa berupa pemboikotan apapun terkait tiga nama tersebut, tanpa harus menunggu keputusan resmi dari pihak berwenang tentang kebenaran sosok yang menjadi pemeran dalam video mesum itu.

Padahal pada prakteknya mengunduh video itu di dunia maya tidak sulit. Seketat-ketatnya tindakan pemblokiran dilakukan, masih dapat diterobos. Ini karena karakter kemandirian media online sangat kuat. Apalagi jumlah byte-nya kecil. Hanya 56,0 MB dan 25,1 MB. Yang terakhir itupun masih terpilah menjadi dua.

Saya menilai, Unilever, produk sabun lux memutuskan kerjasama dengan Luna Maya sebagai bintang iklannya, adalah pilihan bijaksana. Perusahaan ini dengan cepat mengantisipasi melebarnya konotasi negatif atas produknya.

Media pun seharusnya bersikap lebih dari unilever. Bukan hanya mengantisipasi medianya akan diasumsikan sebagai pendukung gerakan amoral, tapi juga menekan melebarkan dampak negatif yang terjadi di masyarakat, yang notabene juga menjadi tanggung jawab pers.

Dalam kasus ini, saya menilai media tak perlu menunggu keputusan resmi dari pihak berwenang untuk bersikap. Juga, tidak perlu mendengarkan alasan yang digelontorkan pihak pengacara dari tiga pesohor itu. Sebaliknya, kalau mengikuti debat kepentingan yang dilakukan oleh para pengacara dan saksi ahli dari Polri, itu artinya media terjerumus dalam bisnis kepentingan, dan membuahkan produk informasi yang tak bermakna bagi bangsa.

Semestinya, untuk kasus yang spesifik ini, media melihat dulu video-nya. Kemudian memutuskan warna pemberitaannya. Sebagaimana seorang jurnalis memberitakan kasus tabrak lari. Kebetulan jurnalis tersebut sekaligus saksinya. Di sini sudah pasti sang jurnalis dapat memberitakan peristiwa yang terjadi, tanpa harus mencari lagi saksi lain, hanya sekadar untuk membuat penyataan atas kesaksiannya. Cukup dirinya sendiri. Persis seperti wartawan olahraga melaporkan hasil tendangan pinalti. Cukup dari pandangan mata sendiri.

Kenyataannya, media dalam pemberitaan video mesum dan vulgar ini, justru hanya menyelipkan kata-kata santun yakni mirip untuk menyebut tiga bintang itu. Di sini media tampak ragu-ragu. Masyarakat pun dibuat gelisah. Seolah media tak memahami topik yang diberitakan. Bahkan, dapat diasumsikan tidak mempertimbangkan dampak negatif atas warna pemberitaannya.

Kalau bagi kami pribadi, sebagaimana Unilever, sejak awal sudah memutuskan kasus itu sudah berakhir. Apa pun alasan yang digelontorkan pihak pengacara tiga pesohor itu tidak akan merubah keputusan pribadi dan keluarga, bahwa kami harus memboikot acara atau kegiatan atau pemberitaan yang melibatkan Luna Maya, Cut Tari, dan Ariel Peterpan.

Alasan kami, melakukan hubungan suami istri, tanpa dilandasi kesakralan pernikahan, merupakan perilaku binatang, yang berbeda dengan prinsip hidup lumrahnya manusia, ber-Ketuhanan YME. Alasan lain, adanya KESENGAJAAN merekam adegan super syur. Bahkan, disengaja atau tidak disengaja, kenyataannya video itu telah beredar luas, dan mudah diperoleh.

Saya pun terpaksa membuat cerita yang sedemikian rupa atas citra tiga bintang ini kepada anak-anak saya. Kesimpulannya tidak selalu bintang top Indonesia itu, sebagai publik figur yang dapat diteladani kehidupannya secara utuh.

Saya berharap kelak dalam pemberitaan kasus-kasus serupa, media mempertimbangkan secara seksama atas warna pemberitaannya. Memang tak mudah. Setidaknya tertangkapnya satu dua tiga orang, tidak kemudian diikuti oleh tumbuhnya ribuan orang untuk meneladaninya, hidup dalam dunia binatang, seks bebas.

Oleh : Priono Subardan
* Penulis adalah mantan wartawan Surabaya Post

Artikel ini direpublish atas seijin penulis. Meski artikel ini ditulis pada tahun 2010, pesan dalam opini ini masih korelatif dengan perkembangan terkini.

Loading...

Post Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.