Kiprah Soeharto, Liputan Piala Dunia hingga Kecelakaan Pesawat
Lho Iki Lak

Kiprah Soeharto, Liputan Piala Dunia hingga Kecelakaan Pesawat

Perjalanan Soeharto memang melekat dengan dunia menulis. Lihat saja, sejak masih duduk di bangku SD, ia sudah suka menulis. Kendati putra ke enam dari 12 bersaudara, buah hati pasangan Sadi Sastrodihardjo dan Siti Soendari, ini mendapat predikat pengarang terbaik. Tak heran jika mendapat predikat tersebut, karena mata pelajaran Bahasa Indonesia merupakan pelajaran favoritnya.

Di SMP, hanya ketika ia tak naik kelas sembilan yang diingat, akhirnya ia dibantu kakaknya yang kebetulan mengelola sebuah sekolah untuk ikut ujian negara di sekolah itu.

Naik ke SMA, tepatnya waktu itu kelas II, saat itulah pria kelahiran Surabaya itu memulai karirnya. Ketika masih tinggal di Malang, ia sudah mendapat tawaran dari kakaknya, Soehardhi, yang tinggal di Jakarta. Kebetulan, pengusaha yang ingin menerbitkan surat kabar mingguan sedang mencari tenaga. Kakaknya terus memotivasinya agar mengelola media itu.

“Wah, apa saya bisa?” begitulah pertanyaannya pada Soehardhi. “Bisa, kamu bisa, nanti saya bantu dari jauh,” jawab kakaknya itu untuk meyakinkan Soeharto.

Kemudian ia bersedia mengelola media yang bernama Minggu Suasana itu. Tak memiliki dasar ilmu dan pengelaman tentang jurnalistik, hanya berbekal tekad semangat saja. Namun ia tak sendirian, ia dibantu oleh guru Bahasa Indonesianya di sekolahnya.

Sudah berjalan lima tahun, ia membantu mengelola media tersebut. Karena itu, sekolahnnya pun jadi berantakan. Lagi-lagi, ia tak naik kelas di SMA, di kelas yang sama saat SMP.

Usai lulus dari SMA, lalu ia melanjutkan jenjang pendidikannya di Universitas Katolik Atma Jaya Malang. Masih sempat menangani Minggu Suasana saat kuliah, ia diberi dispensasi tidak ikut ospek karena ia seorang pekerja. Namun akhirnya media yang ia tangani selama lima tahun itu berakhir di tahun 1965.

Hanya sempat mengeyam 2,5 tahun di Atma Jaya, sebab setelah tahun 1965 perguruan tinggi swasta ditutup pemerintah, salah satunya kampusnya itu. Karena waktu itu banyak mahasiswa yang ikut demonstrasi terkait adanya peristiwa Gerakan 30 September Partai Komunis Indonesia (G-30-S/PKI).

Akibat dari peristiwa itu, ia tidak memiliki ijazah sarjana. “Soal pendidikan, saya sangat buruk mas,” ungkap pria berkopyah putih itu saat ditemui di kediamannya.

Pasca itu, pada tahun 1966, ia melamar di Surabaya Post. Meskipun sebelumnya menduduki jabatan pemimpin redaksi, pengalaman tersebut tak berlaku. Ia harus memulai karirnya kembali dari bawah. Di Surabaya Post, ia mulai dipekerjakan sebagai ‘pembantu’ di redaksi oleh Abdul Aziz, pemilik Surabaya Post. Ia membantu sebagai korektor serta opmaker (sekarang layouter).

Pak Aziz, sapaan akrabnya, adalah salah satu orang yang berjasa bagi Soeharto atas karirnya di Surabaya Post. Sebab, ia orang yang dermawan jika ada karyawannya yang ingin belajar lagi. Keinginannya untukl kuliah di Akademi Wartawan Surabaya (AWS) pun terpenuhi.

“Saudara boleh melanjutkan (belajar) ke AWS dengan biaya sepenuhnya dari kantor,” ujar Pak Aziz pada pria yang menulis buku ‘Tragedi Pesawat Haji Di Kolombo – 15 Nopember 1978’ waktu itu.

Pada tahun pertama di Surabaya Post, ia diberi kesempatan Aziz untuk meliput keluar. Seperti meliput olahraga, kota, pemerintahan, dan pertemuan-pertemuan di bidang ekonomi. Hingga pada suatu peristiwa yang paling diingat, yakni ketika ia harus meliput haji di tahun 1978.
Namun nahas, ia mengalami kecelakaan saat ia pulang dari haji. “Pada tahun 1978, saya sebagai wartawan diundang oleh Dirjen Imigrasi untuk meliput haji. Waktu itu berangkatnya oke, tapi pas pulang pesawatnya jatuh,” ungkapnya.

Beruntung, ia masih selamat dari tragedi itu. Kemudian, ia juga mendapat tawaran untuk meliput keluar negeri, seperti Piala Dunia 1982 di Madrid, Spanyol dan mendapat undangan ke Amerika dari Garuda.

“Saya pernah menjadi wartawan ekonomi dan olahraga. Di olahraga, saya pernah meliput Piala Dunia di Madrid 1982. Di ekonomi, pernah mengikuti pertemuan di luar negeri, terus diundang Garuda untuk pergi ke Amerika,” ujarnya.

Kiprahnya di Surabaya Post cukup lama, sekitar 25 tahun (1966-1991) ia habiskan sebagai wartawan di sana. Hingga akhirnya ia beralih profesi menjadi manager public relation di PT. Maspion Group. (moh/hdl)

Loading...

One Comment

Post Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.