Henri Nurcahyo – Sang Penulis
Kiprah Usaha Rek

Henri Nurcahyo – Sang Penulis

Henri Nurcahyo itu seorang Penulis. Pekerjaan dan penghasilan utamanya yaa memang dari menulis. Sejak SMA suka menulis di majalah dinding, ketika kuliah suka mengirimkan artikel di koran dan majalah. Setelah itu, lantas berpindah-pindah media massa sebagai pekerjaan formalnya menjadi wartawan. Mulai dari media lokal hingga nasional, dan juga menerbitkan media massa sendiri. Belakangan, lebih banyak menulis di media online, khususnya di blognya sendiri. Yang jelas, semangat jurnalistiknya tidak pernah padam, tak pernah terhalang oleh keterbatasan sarana.

Apakah dengan menjadi Penulis bisa menjadi penghasilan utama? Itu pertanyaan wajar, sebab penghargaan kepada penulis di negeri ini masih sangat minim. Tidak banyak penulis yang sukses dan kaya raya hanya dengan kerja kepenulisannya. Kebanyakan penulis masih terlunta-lunta nasibnya. Apa boleh buat, pekerjaan intelektual yang membutuhkan kemampuan spesial ini masih belum mendapatkan apresiasi yang sepantasnya.

Meski demikian, memang dari pekerjaan menulis itulah yang dapat menghidupi sebuah keluarga dengan tiga anak hingga kesemuanya menempuh pendidikan di perguruan tinggi. Ketika bekerja secara formal sebagai wartawan tidak memuaskan, maka menulis artikel lepas adalah pilihan. Tetapi ini tidak juga memuaskan hasilnya. Sebab kompetisinya sangat ketat, dan hasilnya tidak seberapa.

Yang kemudian membuahkan hasil lumayan besar adalah menjadi penulis buku pesanan. Bisa dari pribadi seorang tokoh, dari lembaga swasta, atau proyek pemerintah. Menulis buku pesanan ini tidak perlu berpikir bagaimana menjualnya. Itu urusan pemesan. Yang penting menulis saja, kadang juga mengurusi sampai percetakan, setelah itu terima honor tunai. Beres.

Kalau menulis buku dengan kemauan sendiri, tidak ada yang membiayai, kesulitannya adalah mencari penerbit yang bersedia mencetak dan menerbitkannya. Tidak gampang menembus penerbit agar bersedia mencetak buku kita. Kalau toh mau, itupun biasanya harus sabar menunggu berbulan-bulan, maka pihak penulis tidak bisa langsung mendapatkan honor pada saat buku itu selesai dicetak. Harus menunggu minimal 6 (enam) bulan setelah buku itu dipasarkan di toko-toko buku. Setelah masa 6 bulan itu, maka dilakukanlah hitung-hitungan, berapa buku yang laku, dan penulis hanya mendapatkan jatah tidak lebih dari 10 (sepuluh) persen dari harga jual buku. Posisi Penulis menjadi sangat lemah karena tidak bisa mendapatkan transparansi tingkat penjualan bukunya. Pasrah saja apa kata penerbit.

Yang masih berhubungan dengan dunia tulis menulis adalah, menulis makalah ketika diundang menjadi narasumber seminar atau semacamnya. Ini juga ada honornya yang lumayan. Atau juga menulis hasil pengamatan sebuah pertunjukan atas pesanan penyelenggara pertunjukan tersebut, atau menulis artikel di katalog pameran lukisan. Bahkan, Henri Nurcahyo juga melayani penulisan sambutan pejabat, makalah, siaran pers, bahkan juga menulis buku atas nama orang lain. Itu disebut Ghost Writer, alias penulis yang tak menampakkan jatidirinya. Hanya saja, “saya pantang menjadi ghost writer karya akademis,” tegasnya. “Paling-paling hanya membantu editing atau menjadi konsultan,” tambah Henri.

Bidang Penulisan

Lantas, bidang penulisan apa saja yang dikuasainya? Pada dasarnya yang namanya Penulis itu tidak harus menjadi expert atau ahli atas suatu bidang tertentu. Penulis sekaligus expert itu memang ideal, sehingga dapat menulis dengan bagus sesuai dengan bidang keahliannya. Tetapi sesungguhnya pekerjaan menulis itu sendiri adalah sebuah keahlian khusus. Ibarat menjadi pengemudi, tidak harus juga menjadi ahli mesin sebuah kendaraan bermotor, tetapi kemampuan sebagai sopir itu sudah merupakan keahlian tersendiri. Apalagi mampu mengemudikan segala jenis kendaraan. Perkara kemudian misalnya ada masalah dengan kendaraan yang dibawanya, itu bisa minta bantuan ahli mesin. Tugas sopir adalah mengemudi dengan baik.

Ketika menjadi wartawan, Henri Nurcahyo pernah menulis atau menyunting berita-berita dan artikel politik, pendidikan, lingkungan hidup, kesenian, sejarah, pariwisata sampai dengan soal tanaman hias, bonsai dan hobi burung. Henri malah pernah mendapat tugas jurnalistik keliling Thailand Selatan untuk menulis perkutut. Bahkan Henri pernah menulis 2 (dua) buku pesanan mengenai olahraga, bidang yang sebetulnya kurang disukai dan tidak dikuasai. Tetapi karena memang pesanan, tidak boleh menolak proyek. Ibarat seorang Dalang tidak bakal kehabisan lakon. Namun bidang yang ditekuni dan menjadi keahliannya sesungguhnya adalah seni budaya dan lingkungan hidup.

Karena berbagai bidang mampu dilayani itulah maka Henri yang sama sekali tidak punya pendidikan formal bidang jurnalistik atau sastra ini maka pihak penyelenggara seminar yang mengundangnya sebagai pembicara suka memaksa Henri menyebut gelar akademisnya. Mereka mengira Henri malu atau rendah diri dan tidak mau menyombongkan diri, padahal memang tidak punya gelar apa-apa. Sampai-sampai ada penyelenggara seminar yang langsung saja menulis namanya, Drs. Henri Nurcahyo, atau malah menulis Dr. Henri Nurcahyo. Waduh, sejak kapan kuliah S-3? Lha wong S-1 saja tidak selesai. (hnr – bersambung)

 

Loading...

One Comment

Post Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.