Henri Nurcahyo, Jalan Panjang Pelestari Panji
Info Baru Kiprah

Henri Nurcahyo, Jalan Panjang Pelestari Panji

Setelah meninggalkan Harian Sore Surabaya Post pada 1989, Eko Henri Nurcahyo aktif menjadi koresponden majalah Jakarta-Jakarta (1990), menerbitkan sejumlah media hobby, media komunitas dan home magazine.

Di sebuah perbincangan kecil ia pernah mengaku. Dalam hidup, hanya ada dua hal yang membangkitkan antusiasnya. Pertama menulis, kedua seni budaya. Itu yang kemudian jadi alasan, di sela kesibukannya sebagai penulis lepas artikel di Surabaya Post, Jawa Pos, Bhirawa, Kompas, Republika, Visual Art, Majalah Warisan dan lain-lain, ia juga aktif menjadi Pemimpin umum dan Pemimpin Redaksi Jurnal Budaya ‘BrangWetan’.

Satu tema yang kemudian jadi perhatian besarnya adalah Budaya Panji. Di laman facebook, Henri sering berkisah tentang Budaya Panji. Meski di sisi lain, ia juga menyayangkan, betapa Jawa Timur sebagai rahim kelahiran Cerita Panji, justru tak seserius kantong-kantong Panji lain di Asia Tenggara dalam melestarikan Panji. Jatim, kata Henri, benar-benar jauh tertinggal.

Tak mau menyerah dengan kondisi ini, Henri berinisiatif memprovokasi pemerintah daerah, perguruan tinggi, dan pegiat budaya untuk menggali lagi kekayaan Cerita Panji dan memopulerkannya. Sepak terjang Henri Nurcahyo ini kemudian ditulis panjang lebar di kompas.id. Berikut artikel berjudul Eko Henri Nurcahyo, ”Provokator” Pelestarian Budaya Panji yang ditayangkan di Kompas ini.

Cerita Panji berakar dari roman epos Raden Inu Kertapati (Panji Asmarabangun) dengan Dewi Sekartaji (Galuh Candra Kirana). Selama ratusan tahun, rakyat lintas generasi menggubah, mengembangkan, dan menyiarkan kisah tadi sebagai tradisi lisan dan tertulis. Mereka juga turut membawa dan menyebarkan Cerita Panji dalam jalur perdagangan antarbenua sehingga menulari bangsa-bangsa di Asia Tenggara.

Panji kemudian menjadi sumber inspirasi kesusastraan populer Indonesia, Malaysia, Thailand, Myanmar, Kamboja, Laos, dan Filipina. Peradaban di antara Samudera Pasifik dan Samudera Hindia ini menerima dan menggubah Panji mungkin karena sosok Raden Inu Kertapati dan Dewi Sekartaji lekat dengan tradisi dan keseharian hidup. Untuk itu, tidak berlebihan jika begawan kebudayaan, mendiang Raden Mas Ngabehi Poerbatjaraka, pernah menyatakan, Panji sebagai buah revolusi terhadap tradisi susastra Ramayana dan Mahabharata (India).

Beratus-ratus versi Panji dalam bentuk manuskrip tersebar dan tersimpan di seluruh dunia. Bahkan, Oktober 2017, Cerita Panji mendapat pengakuan sebagai Ingatan Dunia (Memory of The World) dari Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO).

Ironisnya, Panji ternyata tidak tertancap dalam ingatan masyarakat Jawa Timur. Tanyakan saja apakah mereka mengerti kisah Panji. Niscaya sebagian besar akan menggelengkan kepala dan mengernyitkan dahi. Tapi, begitu ditanya apakah tahu cerita Ande Ande Lumut, Entit, Golek Kencana, Keong Mas, atau Timun Mas? Sangat mungkin mereka menjawab ya, bahkan bisa menceritakan ulang sebagian kisahnya. Padahal, beragam cerita rakyat tadi tidak lain bagian dari Panji.

Kenyataan itu menyadarkan Henri Nurcahyo bahwa Jatim terutama Kediri sebagai Bumi Panji jauh tertinggal dalam mengayomi Panji dibandingkan misalnya Thailand. ”Negeri Gajah Putih” itu sejak era Ayutthaya telah menggubah Panji menjadi kidung agung sendratari inao dan dalang. Keduanya menjadi materi pergelaran tradisi yang populer hingga sekarang. Budaya Panji pun berkembang di sana.

Henri merasa gelisah karena panji seakan tenggelam di negeri sendiri. Padahal, di negara-negara lain, Panji diagungkan. ”Saya hidup dalam atau bersama budaya Panji. Panji sudah jadi bagian kehidupan dari kecil sampai dewasa lewat cerita rakyat dan seni tradisi. Tapi, saya sendiri tidak menyadarinya,” ujarnya, akhir September 2019 lalu, di Sidoarjo.

Untuk mengobati kegelisahannya, tahun 2008 Henri yang juga penulis menghadiri diskusi-diskusi dengan kalangan seniman, budayawaan, dan ilmuwan penggila Panji. Dari situ lahir lembaga Konservasi Budaya Panji Dewan Kesenian Jawa Timur dan Henri ditunjuk sebagai koordinator.

“Sejak menerima kepercayaan itu, saya nekat terjun dan mengembara dalam budaya Panji,” ujar Henri.

Ia mulai menginisiasi berbagai diskusi, lokakarya, dan seminar Panji. Ia mendorong dan melibatkan diri dalam festival berskala nasional dan internasional. Ia juga mendorong pembentukan Jaringan Budaya Panji Nusantara dan aktif di dalamnya. Secara bersamaan, ia menjadi editor serta menulis buku-buku tentang Panji.

Henri yang lahir di Lamongan mengembangkan kerja sama dengan kalangan peneliti internasional dan negara sahabat untuk penulisan artikel hingga buku tentang Panji. Buku-buku itu diterbitkannya secara mandiri melalui Komunitas Budaya Brang Wetan.

Budaya Panji Nusantara. Secara bersamaan, dosen pengampu Kajian Panji Unipa ini menjadi editor serta menulis buku-buku Panji.

Provokasi

Henri memang mengambil jalan berbeda untuk mengayomi Panji. Ia sadar ia bukan pegiat seni, pemilik galeri, atau peneliti relief atau candi terkait Panji. ”Yang saya miliki mungkin kemampuan memprovokasi sekaligus menulis populer agar budaya Panji bisa semakin dikenal,” kata Henri, yang kini mengampu kajian Panji di Universitas PGRI Adi Buana, Surabaya.

Ia mengaku sengaja sering bersikap sinis pada daerah-daerah yang memiliki kekayaan tradisi Panji, tapi kurang memperlihatkan geregetnya. Ia mengompori daerah-daerah untuk lebih banyak menggelar diskusi, festival, dan membangun instalasi seni rupa Panji baik topeng maupun patung. Kadang ia menyerang pemkab, pemprov, dan pemerintah pusat agar mereka memberi perhatian khusus bagi Panji.

Ia rajin mendatangi berbagai museum dan galeri yang menyimpan arca, relief, prasasti, atau tinggalan sejarah Panji. “Saya obong-obong (panas-panasi) agar tinggalan sejarah itu dikembalikan ke Jatim atau jika tidak bikin semacam wadah kajian budaya Panji,” ujarnya.

Dalam pengembaran itu, ia bertemu mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Wardiman Djojonegoro yang ternyata memendam kecintaan besar terhadap Panji. ”Melalui Pak Wardiman, perjuangan bersama agar Cerita Panji mendapat pengakuan dunia jadi lebih terbuka dan akhirnya berhasil saat UNESCO mengeluarkan pengumuman pada Oktober 2017 bahwa Cerita Panji menjadi Ingatan Dunia,” kata Henri.

Inilah hasil perjuangan Indonesia, Malaysia, Kamboja, Belanda, dan Inggris melalui pengajuan berbagai manuskrip bersejarah Cerita Panji yang tersimpan dan terlestarikan. Bagi Henri, status Ingatan Dunia itu menjadi jalan baru pengembaraan dalam Budaya Panji. Ia berpesan, jangan sekali-kali kita tega meninggalkan Panji.

Bagi Henri, status Ingatan Dunia itu menjadi jalan baru pengembaraannya dalam Budaya Panji. Ia mencoba kembali menawarkan dan menancapkan panji-panji budaya Panji agar membumi di kampus-kampus Jatim. Jangan sampai, kampus-kampus Brang Wetan masih tertinggal, apalagi tega meninggalkan Panji.

“Sejauh pengamatan saya, Universitas Ciputra dan Unipa mencoba mewujudkan Budaya Panji dalam tradisi kehidupan akademik,” kata Henri.

Ciputra bergerak di hilir dengan menjadikan Panji sebagai inspirasi melahirkan produk-produk ekonomi kreatif (suvenir). Unipa bergerak di hulu dengan menempatkan Kajian Panji sebagai menu kuliah mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Di Unipa, diskursus menguat dengan keseriusan kampus membuat Pojok Panji dan Bale Panji.

Henri masih menyimpan energi provokasi untuk mendekati kampus-kampus lainnya. Ia akan meledakkannya agar sivitas akademik membangun pusat studi Panji sebagai salah satu inspirasi aktivitas ilmiah. Henri juga terus memelihara laman-laman internet tentang Panji. hdl/sumber : kompas.id

Loading...

Post Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.