Dari Mingguan Mahasiswa hingga Surabaya Post
Info Baru Info SS

Dari Mingguan Mahasiswa hingga Surabaya Post

Kuliah di Akademi Wartawan Surabaya (AWS) tahun 1970, Zainal Arifin Emka kukuh menapaki karir jurnalistiknya, dengan bergabung di coaching jurnalistik IPMI (Ikatan Pers Mahasiswa Indonesia) tahun 1971.

IPMI dikenal sebagai organisasi mahasiswa yang sangat berpengaruh. Banyak nama besar lahir dari situ. Seperti Nono Anwar Makarim, praktisi hukum, penulis buku, dan kolumnis di berbagai media massa nasional. Lalu Ismid Hadad, pemerhati lingkungan hidup, wartawan senior, sempat menjabat Penasihat Senior Iklim Keuangan pada Kementerian Keuangan Republik Indonesia. IPMI sendiri dibentuk pertengahan Juli 1958.
Sehingga saat menggelar coaching, pria kelahiran Jember, 18 Januari 1951 ini ikut mendaftar bersama ratusan mahasiswa dari seluruh Indonesia.

“Untuk mengikuti coaching ini ada beberapa tahap. Saya berhasil lolos di tahap-tahap awal,” aku Zainal yang sejak tahun 1995 tercatat sebagai dosen jurnalistik di Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi – Almamater Wartawan Surabaya (Stikosa-AWS) ini.

Lolos di tahap satu, Zainal melaju di tahap dua. Jumlah peserta yang awalnya ratusan, akhirnya tersisa beberapa orang. “Lalu tahap dua juga lolos. Sampai tahap tiga, peserta tinggal 10 orang. Untuk menuju tahap empat ini saya gagal. Saya kecewa, tapi tidak sakit hati. Tetap bangga,” kenang Zainal.

Karena, lanjut dia, pesaing waktu itu adalah nama-nama besar seperti Sam Abede Pareno dan Anshari Thayib. Sam Abede yang memiliki nama asli Hasan Abdullah Attamimi ini dikenal sebagai Guru Besar Ilmu Komunikasi Universitas Dr Soetomo (Unitomo) Surabaya, wartawan senior, dan penulis buku. Sementara Anshari Thayib adalah wartawan senior dan Anggota Komisi Nasional Hak Asasi Manusia.

“Itu pesaingku. Lagian kalau waktu itu lolos dan ke Jakarta ya saya tolah-toleh. Wong arek ndeso,” candanya.

Dari situ Zainal kemudian berkenalan dengan Agil Haji Ali. Kelak, Agil dikenal sebagai tokoh pers nasional, pendiri Harian Memorandum dan sejumlah penerbitan di Surabaya. Ia juga pernah menjadi Ketua PWI Cabang Jatim dua periode, dari 1982 hingga 1992.

Oleh Agil, Zainal diajak gabung dengan Mingguan Mahasiswa. Sepanjang 1972-1976 itu ia diajak berkenalan dengan model jurnalisme yang mengedepankan kualitas data dan kontrol sosial.

Lulus AWS pada 1975, skill dan pemahaman jurnalistik Zainal pun makin matang. Tahun 1976, ia memilih untuk mundur dari Mingguan Mahasiswa. Alasannya sederhana saat itu, sebagai protes karena gaji yang mulai sering terlambat.

Uniknya, kata Zainal, tiap keluar selalu ada yang menjemput. “Njemputnya unik. Tiap datang mereka bilang kalau ada isu bagus buat Mingguan Mahasiswa. Jadi diiming-iming berita bagus, bukan duit. Kalau sudah gitu saya balik ke Mingguan Mahasiswa. Sampai tiga kali,” kata Zainal sambil tersenyum.

Sampai suatu ketika ada pengusaha bikin media baru bernama ‘Indonesia Membangun’. Zainal pun bergabung di situ hingga 1976, bersamaan dengan masa bertahan media yang memang hanya dua tahun.

Usai meninggalkan Indonesia Membangun, ia menjadi koresponden Majalah Detektif Romantika dan beberapa media lain. “Saya sering dihubungi senior yang kerja di media lain, dia bilang, Mas ini wartawanku sakit, bisa minta tolong liputan di Malang? Ya saya berangkat. Lalu suatu saat ada yg menghubungi, Mas, aku dapat undangan dobel. Sampeyan ikut rombongan mendagri ya. Saya berangkat. Jadi ada kalanya seperti itu. Dua tahun,” jelasnya.

Sampai suatu, Tjuk Swarsono menghubungi Zainal dan berkata, “Mas, ini Surabaya Post butuh redaktur”.

Zainal tak berpikir panjang untuk menyambut dengan kesanggupan. “Jadi itu jasa Mas Tjuk yang tidak akan pernah saya lupakan. Waktu itu ia juga pesan, sampeyan nulis lagi di Surabaya Post. Pak Azis wis lali ambek sampeyan (sudah lupa dengan Anda, red). Jadi sebelum mulai gabung, saya sudah pernah menulis beberapa kali untuk Surabaya Post,” kata Zainal, yang kini juga aktif menjadi konsultan di Yayasan Dana Sosial Al-Falaf (YDSF) dan Dinas Komunikasi dan Informartika Jawa Timur ini.

Bertemu A. Azis, pendiri Surabaya Post, Zainal dapat pertanyaan sederhana, “Kapan bisa gabung dengan Surabaya Post?”

“Saya jawab, besok pak! Ya dalam hati saya bilang, siapa nggak mau kerja di Surabaya Post,” ujar Zainal, kali ini disusul tawa lepasnya.

Mulai bergabung dengan Surabaya Post, Agil yang sempat jadi partner di Mingguan Mahasiswa menemui Zainal. Katanya, “Saudara mau bergabung dengan Surabaya Post? Wong itu koran priayi”. Zainal hanya tertawa, meski dalam hati ia membenarkan.

Resmi jadi sub editor atau wakil redaktur untuk halaman kota dan daerah pada 18 September 1978, Zainal bertekad merubah tradisi priayi di koran sore ini. Apalagi saat full pegang daerah, ia makin serius menangani konten daerah. Nilai kontrol sosial terus diasah.

“Gara-gara liputan kawan-kawan ini bahkan ada pejabat bermasalah yang akhirnya lengser. Meski tidak ikut terjun langsung, saya ikut senang,” kata Zainal.

Tahun 2001, ia memilih untuk keluar dari Surabaya Post. Sebelumnya, kondisi koran ini berangsur memburuk di dua tahun terakhir, karena krisis di manajemen. Saat itu sejumlah awak redaksi dan karyawan mulai berunjuk rasa.

“Jadi ini biar jelas saja. Surabaya Post itu bubar bukan karena konflik di kalangan karyawan, bukan karena redaksi. Kawan-kawan baik-baik saja, berita jalan, redaksi jalan. Masalahnya di manajemen,” tegas Zainal.

Saat meninggalkan Surabaya Post, ia tahu, banyak yang kecewa bahkan marah-marah pada dirinya. Maklum, waktu itu jabatan Zainal sudah wakil pimpinan redaksi. Dan saat pimred jarang di kantor, praktis ia yang jalan.

Saat mundur Zainal lantas dituduh nahkoda yang kabur dari kapal. Ia dituduh tidak bertanggung jawab dan tidak perduli pada kawan-kawan.

“Jujur saya keluar karena sudah tidak kuat. Ada tekanan luar biasa, bahkan pada tataran yang sudah mengusik ketenangan keluarga. Ini tak pernah saya ungkap benernya. Tapi tekanan batin yang saya rasakan sudah luar biasa. Bentuknya macem-macem,” jelas Zainal.

Tekanan itu, akunya, mulai dari yang secara terbuka sampai pada hal-hal yang sesungguhnya tidak rasional. “Tentu saya tidak bisa jelaskan satu-satu. Tapi tekanan itu sudah sangat kuat,” tegasnya.

Keluar dari Surabaya Post, Zainal sempat kerja di Harian Berita Sore pada 2002 hingga 2004, lalu jadi konsultan di beberapa lembaga. Di antaranya YDSF dan Dinas Komunikasi dan Informasi Jawa Timur.

Zainal Arifin juga aktif menulis buku. Beberapa buku yang ditulis antara lain ‘Wartawan juga Bisa Salah’ dan ‘Wartawan Seharusnya Tepercaya’. Tahun 2007 menjadi Ketua Stikosa AWS. Juga aktif menjadi pengajar di Stikosa AWS. (hdl | foto : dok actasurya.com)

Loading...

Post Comment

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar anda diproses.