Terpaksa Bohongi Redaktur Gara-gara Ketiduran
Info Baru Nostalgia

Terpaksa Bohongi Redaktur Gara-gara Ketiduran

Sebelum menjadi wartawan di Harian Surabaya Post, Drs Adriono sudah sering menulis artikel di koran sore ini. Ia bahkan terbilang rutin menulis di rubrik ‘Psikologi’ SP edisi minggu.

“Ketika ada rekrutmen, saya mendaftar. Dan alhamdulillah diterima bersama 21 orang seangkatan saya,” aku pria kelahiran Surabaya, 20 Mei 1962 ini.

Berbekal pengalaman itu, ditambah pendidikan jurnalistik selama kuliah dan diklat on the job di SP, ia pun mulai menjalani tugas-tugas jurnalistik.

Di awal bekerja, ia sempat disuruh ikut orientasi mencari berita mengikuti wartawan senior Sugeng Harianto, sekarang doktor sosiologi staf pengajar di Universitas Negeri Surabaya.

“Tugas pertama saya meliput kasus penggusuran makam di Jl Deles Surabaya, yang waktu itu mendapat protes warga setempat,” kenangnya.

Lalu perlahan tapi pasti, ia mulai melakukan peliputan lain yang sebagian memberi kesan istimewa. Termasuk saat wawancara panjang dengan Prof Budi Darma (Unesa).

“Ternyata tape recorder saya tidak dalam keadaan record, maka perbincangan sekitar dua jam tidak terekam semuanya. Mau wawancara ulang malu, akhirnya saya tulis seingat-ingatnya,” ungkap alumnus IKIP Negeri Malang ini.

Pengalaman lain yang tak terlupa ialah saat menunggu narasumber pakar politik Alfian, yang sedang meeting di Hotel Elmi. Saking lamanya meeting, ia tertidur di kursi lobi. Sial, ketika bangun, dan tanya resepsionis, narasumber sudah meluncur ke Bandara Juanda.

“Takut kena marah, maka kepada redaktur saya berbohong dan mengaku, orangnya tidak mau diwawancarai, pak,” katanya.

Pengalaman paling seru, lanjut Adriono, adalah saat ikut demo karyawan Surabaya Post ke DPRD. Biasanya meliput orang demo, sekarang ganti diliput wartawan lain. “Rasanya aneh,” tukas Adriono sambil tertawa.

Selama di harian sore ini Adriono mengaku mendapat banyak pengalaman dan wawasan. Termasuk sejumlah tokoh senior SP, seperti Tjuk Suwarsono, Zainal Arifin Emka, Imam Pujiono, dan Herman. “Tapi hampir semua orang SP memberi pengaruh pada saya, tetapi beberapa dari mereka pengaruhnya cukup kuat,” pungkas Adriono.

Loading...

Post Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.