Sama-sama Berhadapan dengan Masalah yang Berbeda Setiap Hari
Info Baru Kiprah

Sama-sama Berhadapan dengan Masalah yang Berbeda Setiap Hari

Setelah menikah dengan Kun Haryono, sesama wartawan Surabaya Post, Titik Surya Pamukti harus mengundurkan diri dari perusahaan media yang didirikan A. Azis ini.

“Ada aturan tidak boleh menikah dengan teman kantor,” jelasnya. Karena itu, tahun 1994, ia harus resign dan full jadi ibu rumah tangga, mengurus suami dan anak.

Selain Titik, beberapa karyawan juga harus resign karena larangan menikah dengan teman kantor ini. “Waktu itu rombongan. Ada Mbak Dadit, Mbak Onny, Mbak Dini, Nur Alimah,” katanya.

Titik bertemu Kun Haryono sebagai sesama jurnalis. Titik memotret, Kun menulis. Gara-gara sering liputan bareng, mereka pun jatuh hati dan akhirnya menikah dan tinggal di Kota Mojokerto. Kebetulan Kun mendapat tugas sebagai kepala perwakilan Surabaya Post di Mojokerto.

Tahun 2003, Titik mulai bekerja sebagai tenaga pengajar di SD Islam Al Azhar Mojokerto. “Awal masuk ngajar di kelas satu ya agak kaku. Biasa berurusan dengan orang dewasa, tiba tiba harus berurusan dengan anak yang baru lepas dari orang tua,” aku Titik.

Tapi, lanjutnya, berurusan dengan anak-anak itu sangat menyenangkan. Walaupun sempat dimarahi atau ditegur di pagi hari, siangnya mereka sudah tertawa. “Ketawa-ketawa, ndak ada dendam sama sekali,” pujinya.

Sebagai guru SD yang sekolahnya dari pagi sampai sore, ia juga terbiasa jadi baby sitter. Beberapa kali ia harus membantu anak yang toilet trainer di rumah tidak sukses.

“Sangat menyenangkan saat mereka bisa mengerjakan tugas sesuai harapan guru. Tapi harus ngenes kalau murid gak bisa-bisa, walaupun sudah diajari dengan berbagai metode, akhirnya ya nyerah,” akunya.

Apalagi sekolah tempat ia mengabdi adalah sekolah inklusi. Jadi menerima siswa dengan perhatian khusus.

“Satu saat, salah satu muridku yang tuna rungu ngomong aja saat di kelas. Ketika ditegur diam, saya lengah ngomong lagi, tensi sudah agak naik, temannya njawil saya, baterai habis,” kenangnya.

Ternyata, alat bantu pendengaran si anak baterainya sudah habis. Sehingga dia terus-terusan bertanya ke teman di dekatnya. Dalam kondisi seperti ini, kata Titik, seorang guru harus peka.

“Di sekolah saya, saat Ramadhan diadakan buka puasa dan sholat tarawih. Siswa yang tuna rungu ini nyulut mercon di halaman belakang yang saat itu gelap. Ketika ditegur, dengan santai dia jawab, merconnya ndak bunyi,” kata Titik lagi.

Guru dan wartawan, menurutnya, adalah profesi yang hampir sama. Keduanya profesi yang memaksa pelaku bertemu dengan masalah berbeda setiap hari. “Bedanya, saat ini saya setiap hari bertemu anak-anak yang polos, yang selalu percaya jika gurunya bener. Padahal ya belum tentu,” canda Titik.

Loading...

Post Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.