Rasiku Terus Berpendar
Info Baru Kolom

Rasiku Terus Berpendar

Satu demi satu, anak-anakku menyelesaikan fase pendidikan sebagai bekal mengarungi lautan takdir. Dengan segala keterbatasan, tertatih-tatih, menyusuri jalanan terjal yang kudu ditempuh akhirnya sampai pada batas yang diitentukan. Belum finish, waktu masih panjang namun tidak boleh untuk tidak bersyukur karena bersama kesulitan ada kemudahan.

Rasi Ilafi, nama yang kuberikan hasil dari pencarian pada kamus besar bahasa Indonesia. Rasi, gugusan bintang sedang arti Ilafi adalah jiwa yang bisa melihat Tuhan. Setelah menemukan kosakata tersebut lantas kurenungkan makna secara filosofis sebagai doa atas kehadirannya di bumi. Semoga mata bathinnya tajam dalam membaca keberadaan Tuhan dalam diri. Kesadaran akan manunggaling kawula Gusti.

Sebagai anak ragil dari pernikahanku dengan mantan pacarku, kelahiran Rasi menyimpan cerita unik. Setelah kami dikaruniahi dua putri, Lintang Lazuardi Saga dan Toya Sendang Sadu, kehadiran putra ketiga hanya sehari semalam kemudian dia berpulang ke haribaan Illahi. Sebagai bentuk cintaku, jenazahnya aku pangku dalam perjalanan pulang, aku mandikan dan kutimang ke pemakaman. Seusai aku adzani, aku berpesan, “balik’o ya lé.”

Setahun kemudian ibunya mengandung lagi. Berulang kali hasil pemeriksaan ultrasonography (USG) dokter menyatakan bahwa janin dalam kandungannya berjenis kelamin perempuan, bagi saya tidak masalah. Baik laki maupun perempuan merupakan karunia yang patut disyukuri. Hingga seminggu menjelang kelahirannya, dokter masih menyatakan perempuan.

Di rumah sakit Sumber Kasih, jalan Wiyung proses kelahirannya berlangsung pada Jumat pagi. Tidak begitu lama saya menunggu terdengar tangisan bayi, selang beberapa saat seorang suster tampak membopong bayi menghampiri saya yang berhenti berdzikir.

Pak, selamat ya, anaknya sudah lahir, laki-laki, kata suster menyodorkan bayi berselimut. Tentu saja saya menyela, “anaknya siapa Sus?”. Ya anaknya bapak lah. “Menurut USG, anak saya perempuan.” Bukan Pak, bayinya laki-laki. Seketika itu saya baru sadar kalau saat itu tidak ada pasien lain yang melahirkan. “Ya Awooo .. awakmu mbalik léééé..” Mata berkaca-kaca.

Usai aku adzani telinga kanannya, suster kembali bertanya, diberi nama siapa Pak. “Rasi Ilafi,” sahutku dengan hati berbunga. Tubuhku serasa ringan, serasa melayang, serasa bahagia. Setelah Rasi dikembalikan ke ruang bayi aku bergegas mengambil ari-arinya.

Di rumah. Seperti ari-ari kedua kakaknya, aku cuci begitu bersih kemudian dimasukkan ke dalam kendhil lalu ditaburi garam grosok. Di atas ari-arinya kuletakkan beberapa benda sebagai simbol doa, bunga aneka rupa, kertas bertuliskan huruf latin, Jawa dan Arab beserta angka, juga kulengkapi sebuah pensil, jarum dan benang lantas aku bungkus dengan bendera merah putih dengan harapan Rasi memiliki jiwa nasionalisme, cinta bangsa dan negaranya, Indonesia.

Ari-ari kedua kakaknya, Lintang dan Toya maupun cucu-cucuku Dipa Daniswara Mahameru, Ranu Agni Rinjani dan Gabriel Ethan Saka, juga aku yang mensucikan lantas membungkus kendhil mereka dengan bendera merah putih. Baik anak-anakku maupun cucu-cucuku tidak ada yang menggunakan nama bernuansa Arab, murni menggunakan nama Indonesia.

Seperti belum lama ari-ari itu dikutanam, Rasi tumbuh dan berkembang di tengah gelombang kehidupan penuh warna dengan selamat. Uniknya, meski dia tidak pernah menyaksikan almarhum kakaknya Ibnu Rochim namun dia yang sering mengingatkan untuk ziarah pada momen” spesial.

Ibnu Rochim, sebutan nama yang membersit begitu saja menjelang pemakamannya karena hingga menjelang kelahirannya saya tidak berhasil menemukan kosakata yang tepat untuk diberikan sebagai namanya. Ketika orang-orang bertanya, anaknya diberi nama siapa Pak. “Ibu Rochim,” sahutku yang artinya anaknya Rokim.

Nama adalah doa. Begitu juga dengan Rasi Ilafi yang kuharap menjadi pribadi yang jiwanya bisa melihat Tuhan. Dibanding dengan kedua kakaknya, anak ragilku ini yang paling intens berdialog denganku tentang religi, temanya seputar sufistik atau kebathinan Islam. Bagaimana beragama yang toleran, yang menghargai penganut agama lain dengan kecintaan sesama hamba Tuhan.

Sejak kecil, aku sering mengajak dia sembahyang bersama lalu kutiupkan doa di tengkuknya. Hal serupa juga aku lakukan bersama kedua kakaknya. Sayang ibunya nggak hobi sembahyang, tapi buatku tidak masalah. Yang penting bukan sembahyangnya tapi kebaikan kualitas hati yang tercermin dalam perilaku.

Kini Rasi kini hampir selesai kuliah desain produksi di ITATS. Selama dua hari, 27-28 Desember 2019 dia menampilkan tugas akhir melalui sebuah pameran bersama teman-teman sekampus di BG Junction. Dia mengolah bahan kulit secara manual menjadi beragam asesoris. Selanjutnya akan melakoni ujian skripsi. “Ada kesulitan dik,” tanyaku. Moga-moga tidak Pak, tuturnya.

Pada anak-anak aku tidak pernah “njambal” tapi memanggilnya secara hormat ‘mbak’ untuk kedua kakaknya dan ‘dik’ untuk Rasi. Semenjak kanak-kanak, setiap bertemu atau pamit selalu kucium kedua pipi dan pelipis lalu kuusapkan tangan ke ubun-ubunnya sembari berdoa.

Ya, semoga saja proses ujiannya Rasi lancar, lulus menyusul kedua embaknya, Lintang Lazuardi Saga yang menuntaskan kuliah di Fakultas Antropologi Universitas Airlangga sedangkan Toya Sendang Sadu pada Jurusan Arsitektur ITS. Mereka adalah anak panah yang melesat menyusuri relung kehidupan di tengah dinamika zaman.

Semoga selamat dan sukses.

Catatan : Rokim Dakas
Penulis adalah mantan wartawan Surabaya Post

Loading...

Post Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.