Pribadi Campursari
Kolom

Pribadi Campursari

Dalam banyak hal, watak dan kepribadian kita ternyata tergambar dengan gamblang lewat lirik-lirik lagu campursari, yang lagi hit saat ini. Pribadi yang tegar menghadapi kenyataan hidup meski agak melankolis. Watak yang lentur menyelaraskan diri, bahkan dalam kondisi yang begitu kontradiktif. Bisa ketawa di saat susah.

Individu yang tak begitu peduli makna lirik, sing penting asyik. Atau jangan jangan kita mulai kurang empati terhadap derita orang lain. Telah terbiasa dengan ketidaksesuaian antara kata dengan perbuatan.

Simaklah, bagaimana semua orang bisa tertawa riang, berjoget, makmum bernyanyi, mengikuti Lord Broken Heart Didi Kempot, yang justru melantunkan ratapan hati lantaran dipameri bojo anyar :

Dudu klambi anyar sing neng njero lemariku
Nanging bojo anyar sing mbok pamerke neng aku
Dudu wangi mawar sing tak sawang neng mripatku
Nanging kowe lali nglarani wong kaya aku
Nengopo seneng aku, yen mung gawe laraku
Pamer bojo anyar neng ngarepku

Dalam bersikap pun kita ini sangat khas. Suka malu-malu meong. Pada mulanya enggan mengaku tidak suka, tidak tahunya doyan banget. Saya mengamati beberapa kali. Ini terjadi dalam acara gathering, pertemuan organisasi, louching produk, sosialisasi, hingga pesta mantenan.

Pada awal-awalnya, penyanyi selalu menghadirkan lagu-lagu mancanegara. Seolah untuk menegaskan tingginya strata sosial ekonomi dan bermutunya selera sang penyelenggara acara. Orkestrasi musik yang dilengkapi lengkingan saksopon seakan hendak memberi kesan sajian yang hight class. Tetapi perhatikanlah bagaimana respons undangan dan peserta acara. Mereka menyambut dengan biasa-biasa saja. Malah sebagian besar tak hirau, tetap sibuk ngobrol sendiri-sendiri.

Tetapi begitu diluncurkan lirik lagu jawa Ilux, dengan entakan kendang koplo yang rancak. Semua mata menoleh ke panggung. Segera beberapa orang maju mendekat panggung, menggoyangkan pinggul seraya melontarkan senggakan… hak-ee…hak-ee…hak-ee:

Aku mundur alon-alon, merga sadar aku sapa.
Mung digoleki pas atimu perih….

Nah kan ketahuan selera aslinya. Makanya kadang saya suka membatin, “kalau persembahan musik itu memang bertujuan agar suasana acara menjadi hidup dan gayeng, kenapa tidak sejak tadi digebrak dengan campursari? Pasti sobat ambyar akan heboh. Dijamin suasana langsung marak.

Agaknya diam-diam kita masih terjangkiti penyakit minder kolektif, warisan dari bangsa yang lama terjajah. Kerap kurang pede untuk menampilkan eksistensi diri. Lalu, demi amannya, kita memilih berpenampilan dan bergaya seperti orang lain, mengacu kepada kelas sosial yang lebih tinggi. Mungkin cara itu dapat sedikit mendongkrak gengsi, padahal acapkali yang terjadi justru kelucuan yang naif dan agak norak.

Sesungguhnya kita ini diciptakan sebagai makhluk yang unik, punya potensi dan karakter tersendiri. Kita ini selalu sukses mengatasi segala problem hidup betapapun ruwetnya. Dan itu tergambar jelas dalam banyak lirik langgam campursari, juga lagu dangdut koplo.

Ujaran “Kuwat dilakoni, nek gak kuwat ditinggal ngopi” (Via Vallen – Bojo Galak) adalah jurus pragmatis yang sangat ampuh untuk menangkal stres urusan rumah tangga maupun segala himpitan ekonomi.

Lagu Pikir Keri yang berbunyi “Yen gelem tak jak rabi. Yen ra gelem tak jagongi. Sing ra penting pikir keri.” bukanlah sekadar celetukan. Tetapi kristalisasi dari sikap seseorang yang hidup di tengah rendahnya kadar kepercayaan dan memudarnya kesetiaan antara pria dan wanita.

Konon, pribadi yang dewasa ditandai dengan sejauh mana dia berani menjadi diri sendiri. Bahkan psikolog Carl Rogers menegaskan, hanya satu tujuan hidup yaitu menjadi manusia yang utuh, yang mewujudkan diri sepenuhnya.

Menurutku, kaidah itu bukan cuma berlaku di dunia psikologi tetapi juga sosiologi. Keberanian menjadi diri sendiri tidak hanya untuk individu, tapi juga bagi suku, bahkan bangsa. Suku Jawa ataupun suku lainnya perlu eksis dengan segala lokalitas yang dimiliki. Bangsa Indonesia perlu bangga dengan identitas bhineka nusantaranya.

Jadi, bernyanyilah dalam bahasa daerahmu. Karena, pada akhirnya bahasa daerahlah yang paling mewakili suara hati. Anak perempuanku, generasi milenial, yang tempo hari sangat gandrung dengan lagu-lagu Korea, kini tidak malu lagi menyenandungkan refrain tembang viral “Kartonyono Medot Janji” karya Denny Caknan:

Mbiyen aku jik betah, suwe-suwe wegah.
Nuruti kekarepanmu, sansaya bubrah.
Mbiyen wes tak wanti-wanti, aja ngasi lali
Tapi kenyataannya pergi.

oleh : Adriono Ono
* Penulis adalah mantan wartawan Surabaya Post

(adrionomatabaru.blogspot.com)

Loading...

Post Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.