Dirgahayu Indonesia ku
Kolom

Dirgahayu Indonesia ku

Aku bangga jadi orang Indonesia. Sungguh bangga gaèz. Why? Karena di sinilah sejatinya surga. Surga yang dijual secara fatamorgana oleh pedagang ayat yang meraup keuntungan berlimpah, kaya raya tanpa perlu memeras keringat hidupnya mewah. Orang” yang nggak cerdas jadi korban retorika kosong, nasibe nelangsa setelah menghabiskan uang demi mimpi yang baru dinikmati sesudah mati. Prèt..!! Sungguh aku bilang Prèt..!!

Boleh aja orang” jadi korban retorika kosong tapi aku emoh. Aku orang waras yang sadar dan kritis terhadap politik ajaran agama meski telah berlangsung ratusan tahun sehingga mendarah daging mayoritas. Hidup di bumi inilah surga, yang jika tidak hati” bisa jadi neraka. Artinya surga dan neraka itu tergantung dari kemampuan kita mengelola, menghayati dan mengendalikan hati terhadap dua suasana yang dijanjikan Tuhan, Sang Pencipta Alam Semesta .

Bukannya kita yang masuk surga ato neraka, tapi justru surga ato neraka itulah yang bisa masuk ke dalam hati manusia yang wadagnya setara semesta. Ini pemahaman ajaran yang bersifat hakiki, suatu bimbingan pemahaman suatu pedoman hidup yang menitik beratkan pemaparan wujud dari teks kitab suci yang oleh pedagang teks dijual dalam bentuk mimpi indah tanpa mampu menunjukkan wujudnya.

Agen” keagamaan disebar sedemikian massiv, terstruktur dan sistematis untuk menguasai media. Akibat kesadaran yang terlepas, betapa kita lihat orang” terlena oleh retorika jahat hingga kita berseteru dengan sanak sodara.

Sang Bapak Bangsa, Bung Karno melinangkan air mata ketika menyampaikan pesannya dengan suara bergetar, “Dulu perjuangankau begitu mudah karena musuh yang kuhadapi sudah jelas wujudnya, yaitu penjajah Belanda. Tapi perjuanganmu sekarang jauh lebih berat karena yang engkau hadapi adalah saudaramu sendiri. Waspadalah.”

Ya ya ya …. Kita memang dituntut untuk waspada karena yang kita hadapi sekarang adalah pertarungan budaya yang dibalut isu agama dimana saudara kita sendiri terlibat aktif di dalamnya. Sungguh sulit membedakan mana lawan yang mana kawan?

Kita telah diberi pelajaran sejarah berdarah akibat pertarungan antar sodara berdasar agama semasa Majapahit dimana agama resmi negara adalah Hindhu aliran Shiwa dan Buddha kemudian terlibat dengan kaum ekstrimis Islam berlangsung panjang dengan jumlah korban yang tiada tara. Sejarah kemanusiaan yang begitu kelam sekarang terpampang di Timur Tengah yang tidak hanya sebangsa, se tanah air dan satu bahasa tapi juga satu agama, hancur lebur. Peradaban besarnya jadi abu.

Ayo… sadarlah sodaraku untuk mempebaiki pemahaman yang salah kaprah agar kita bisa mengentas diri dari kekalahan atas peperangan politik keagamaan yang berlangsung sejak zaman moyang. Eksploitasi politik tidak hanya menyasar ekonomi, hukum, sosial dan budaya tetapi juga agama. Jika pola keagamaan kalah maka aspek budaya pun terseret kemudian merambahi hukum, ekonomi dan pranata sosial. Tugas kita sekarang adalah menyerap ajarannya secara cerdas bukan budayanya.

Apabila tidak mampu menyerap ajarannya dengan landasan budaya maka kita tercerabut dari karakter budaya Indonesia. Ajaran yang kita jalankan serasa “ngawang” tidak menginjak bumi. Baik bumi keindonesiaan maupun”bumi” raga kita sendiri.

Mari belajar “ngonceki” kesemestaan yang ada dalam diri maka kita akan mengetahui wujud dari teks kitab suci secara nyata. Wujud dari sesembahan, surga, neraka dan kenabian, itu nyata adanya pada hari ini, ada pada setiap pribadi, bukan besok sesudah mati, apalagi hanya angan”. Beragama butuh kecerdasan kawan, ojo anut grubyuk opo jaré karena semua itu menyangkut pertaruhan hidup, mati dan kemakmuran negara dan bangsa Indonesia.

Terus terang aku katakan, kita kalah dalam segala”nya. Sungguh tak terperihkan sakit hati ini mengamati kekalahan bangsaku oleh politik agama sehingga harus membayar “pampasan” yang maha besar. Jika saja orang” sadar dan menghentikan pembayaran itu, betapa makmurnya kehidupan rakyat Indonesia.

Coba direnungkan tanpa perlu takut dosa. Seakan-akan diperintahan untuk wisata agar ketemu Pencipta tapi setelah kembali ke rumah, tak mampu menceritakan apa benar bisa bertemu dengan apa yang dijanjikan, dan secara karakter apa sifat kemanusiaannya berubah menjadi jauh lebih berkualitas?. Bermilyar jiwa tertipu tapi tertawa. Aneh!!

Ini bukan SARA tapi bentuk keprihatinan seorang hamba yang sanubarinya tertusuk pedang peperangan pola beragama dan budaya hingga menghujam ke ulu hati.

Jasmerah. Jangan melupakan sejarah kawan. Kini, di tengah kita merayakan 74 tahun Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang kita cintai, hendaknya kita tetap berdiri tegak di antara rasa syukur dan kewasapaan terhadap politik agama yang menina bobokan serta mengadu domba antar kita.

Sungguh ini ujian yang amat berat. Tapi sejarah senantiasa memanggil kita untuk menjaga tegaknya Republik Indonesia untuk berani menggayang gerakan khilafah yang racunnya merusak pikiran dan hati putra putri pertiwi yang lengah beburu surga fatamorgana dan kita doakan semoga terentas dari kebodohan abadi.

Kawan, inilah Indonesia, inilah surga bagi kita semua. Surga yang kita nikmati setiap hari bersama keluarga tercinta.

Dirgahayu Indonesia
Tanah Airku Tecinta.

oleh : Rokim Dakas
* Penulis adalah mantan wartawan Surabaya Post

Loading...

Post Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.