Capres Sontoloyo
Kolom

Capres Sontoloyo

Saya mau jadi presiden! Jangan ketawa dulu. Saya yakin, elektabilitas saya lebih bagus ketimbang dua capres yang sudah daftar KPU. Paling tidak, saya kenal nama teman-teman capres yang mau maju pilpres tahun depan. Mereka tidak kenal teman-teman saya. Berarti, kalau saya maju pilpres, minimal jumlah suara saya ekivalen suara teman saya ditambah teman-teman dua capres itu. (Tetapi) kalau teman-teman kedua capres itu memilih saya.

Perkaranya, saya tidak yakin pandai membuat janji. Padahal capres harus meyakinkan rakyat dengan janji, misalnya menurunkan harga sembako, membuka lapangan kerja, pendidikan gratis, memberantas korupsi, menegakkan hukum, dan seterusnya. Pokoknya yang bagus-bagus dan layak jual kayak pedagang jamu pinggir jalan. Kata orang bule, marketable. Apa dan bagaimana caranya, wallahualam. Dengan begitu, capres itu bakal dicoblos (gambarnya) oleh rakyat pendukungnya yang percaya 1000% terhadap realisasi janji itu.

Kenapa saya urung daftar capres? Saya ingat pesan ibu. Tentu saja ibu saya. Amanat beliau, jangan gampang bikin janji. Janji itu bohong dan utang. Janji sebagai kebohongan 99% dilakukan setiap orang. Bahkan orang Islam kalau janji membawa-bawa nama Tuhannya, “Insya Allah!” Padahal saat jatuh tempo janjinya mangkir.

Ada anekdot cerdas. Orang Madura kalau berjanji diikuti kata insya Allah, maka 99% janji tersebut ditepati. Sementara orang non Madura, meskipun berjanji diikuti—bahkan didahului berkali-kali—kata insya Allah, dapat dipastikan ketika jatuh tempo yang terjadi adalah ingkar janji! “Bohong!” kata Rhoma Irama, tuiiinggg…

Janji sebagai utang, orang mafhum. Utang uang dibayar uang. Utang darah dibayar darah. Utang budi dibawa mati.

Saya punya pengalaman tidak elok terhadap utang. Benar kata ibu saya. Beliau bilang, kalau belum mampu beli barang baru, ya beli barang bekas saja. Asal tunai! Saya ngeyel ambil kredit. Gengsi dong. Sudah kerja. Punya gaji. Masak naik sepeda motor butut.

Keridaan ibu jadi kenyataan. Sepekan bakdal angsuran tunai. Nahas. Kersaning gusti Allah, saya nubruk truk. Sepeda motor ringsek. Saya masuk rumah sakit. Dengan semangat ampat-lima, pantang surut ke belakang. Saya ambil kredit lagi. Tanpa terasa waktu angsuran tunai jua. Gak sampai sebulan, sepeda motor raib waktu diparkir di depan rumah. Omongan ibu adalah doa. Dan doa ibu memang mustajab. Sejak itu saya gak berani utang! Senyampang saya juga gak ingin dikutuk jadi keledai, bolak-balik terperosok di got sama.

Nah, kalau ikut nyapres berarti saya harus bikin janji. Berarti saya utang. Belum lagi sebagai presiden juga harus utang Bank Dunia, IMF, AS, RRT, IGGI, PBB, BPKB, STNK, etc.etc. Demi pembangunan dan kesejahteraan negeri.

Pada saat jatuh tempo, iya kalau saya bisa nyaur. Kalau tidak? Jangan-jangan seperti sepeda motor nubruk truk. Lebih fatal kalau ditubruki truk-truk besar negara asing. Nyenyek tun. Apalagi kalau seperti sepeda motor kreditan saya yang ilang di depan rumah. Begitupun negeri yang saya presideni. Dicuri negara-negara pemberi utang.

Gak dadi presiden gak pateken, rek!

Oleh : Rusdi Zaki
* Penulis adalah mantan wartawan Surabaya Post

Loading...

One Comment

Post Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.