Bunuh Diri dan Perasaan Putus Asa.
Kolom

Bunuh Diri dan Perasaan Putus Asa.

Dulu di tahun 70an jarang terdengar orang mati bunuh diri. Yang sering terjadi, orang mati karena duel bacokan dengan tetangganya. Mungkin saat itu belum ada sosmed, orang juga masih jarang yang berlangganan koran atau punya televisi. Paling banter mempunyai radio transistor.

Tetapi karena gara-gara mendengarkan drama radio seorang warga di desa saya mati bunuh diri. Ia kedapatan mati dengan menggantung di pohon mangga. Saya melihat dari kejauhan dengan perasaan takut. Konon, warga tersebut bunuh diri karena punya banyak utang kepada rentenir. Saat mendengarkan drama radio, ada salah satu tokoh drama yang memanggil-manggil namanya. “Ibrahim, ibrahim..” Ia menyangka, suara radio itu adalah suara orang yang menagih utang kepadanya. Itu cerita yang tersebar di desa. Kebenarannya wallahualam.

Seseorang ingin mengakhiri hidupnya antara lain karena rasa putus asa yang mendera jiwanya. Saya sendiri pernah disergap rasa putus asa, ketika badan saya diserang penyakit stroke hingga badan saya lumpuh separuh. Saya merasa hidup ini tidak berarti lagi. Tetapi beruntung karena ada istri saya, saudara saya, sahabat saya, teman dan tetangga saya memberikan dorongan semangat kepada saya. Mereka mengunjungi saya, menelepon saya agar saya bersabar dan terus berjuang. Saya dua pekan berada di rumah sakit. Entah sebab apa, saat dikunjungi saudara atau teman saya langsung menangis. Hati saya sangat rapuh.

Perlahan, setelah 3 bulan menjalani rasa putus asa, jiwa saya mulai mempunyai kekuatan. Ada seorang sahabat mengingatkan bahwa saya masih mempunyai tanggung jawab kepada anak-anak dan istri saya. Sejak itu saya mulai aktif bekerja. Saya bekerja sesuai kemampuan saya. Bekerja mengedit berita di rumah, hasilnya saya kirimkan lewat internet. Saya mengetik tulisan dengan tangan kanan, dengan satu jari telunjuk. Ini saya lakukan hingga sekarang karena tangan dan kaki kiri saya setengah lumpuh. Hingga sekarang saya sudah menjalani masa 11 tahun dari penyakit stroke yang pernah menyerang saya. Tubuh saya belum bisa normal. Kalau berjalan, kaki kiri saya masih terasa berat. Aktivitas badan saya lebih banyak mengandalkan tangan kanan dan kaki kanan. Saya sudah pensiun dari tempat kerja saya di PT Tempo Inti Media, penerbit majalah dan koran Tempo. Tetapi alhamdulilah, saya masih bisa mengantarkan dua anak saya untuk menyelesaikan pendidikan tingginya. Salah satu hikmah yang saya petik dari penyakit saya adalah setiap manusia akan menghadapi ujian dari Tuhan. Apakah seseorang bisa menghadapi ujian tersebut sangat tergantung dengan lingkungannya, juga tingkat spiritualitas seseorang.

Catatan : Zed Abidien
Penulis adalah mantan wartawan Surabaya Post, kini tinggal di Mojokerto

Loading...

Post Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.