Bimbing tentang Tantangan, bukan tentang Pekerjaan
Kolom

Bimbing tentang Tantangan, bukan tentang Pekerjaan

Apa yang bakal terjadi 10, 15 atau 20 tahun mendatang memang masih misteri. Tak ada yang bisa memastikan masa depan, bahkan tukang ramal tercanggih. Namun, jika melihat kecenderungan teknologi masa kini, bisa dipastikan masa depan selalu terjadi perobahan besar yang sangat cepat. Yang bisa menghadapi perobahan adalah yang menang dan jaya.

Dua puluh tahun lalu, siapa yang bisa bayangkan pertokoan besar digerus online shop, jasa teller dan customer service bank digantikan mesin, berita koran dan majalan dikalahkan gossip di medsos? Zaman sekarang saja ada profesional jasa keuangan yang banting setir jadi sopir online dengan alasan lebih bisa mengatur waktu dan penghasilan sendiri. Di zaman yang penuh perobahan ke depan, pergeseran karir dan lapangan kerja bisa terjadi lebih dahsyat.

Sumber uang di masa mendatang tidak harus dari satu lembaga, satu perusahaan atau satu boss. Justru, akan banyak sekali micro-job (pekerjaan kecil) yang ditujukan khusus pada orang-orang dengan ketrampilan tertentu. Sumber kekuatan juga bisa datang dari tempat yang tak terduga-duga seiring tidak terduganya perobahan. Rejeki nomplok bisa datang dari mana saja.

Maka, untuk mempersiapkan generasi mendatang, rasanya tak relevan lagi bicara soal pekerjaan, karir, dan bahkan profesi. Pertanyaan “Cita-citamu besok mau jadi apa?” adalah hal yang lumrah untuk zaman old. Di zaman now, tampaknya pertanyaan semacam itu harus direvisi karena di masa datang akan begitu mudah profesi berganti-ganti.

Jadi, akan lebih tepat jika kita membimbing anak atau murid untuk mengenali, menghadapi, dan menyiasati tentang masalah dan tantangan di masa datang untuk dapat meraih peluang-peluangnya. Lebih baik ajak anak atau murid untuk membayangkan bagaimana dia ingin hidup di masa datang. Dari situ, latih anak dan murid untuk melihat masalah-masalahnya, tantangan-tantangannya, dan celah-celah untuk dijadikan peluang.

Jangan bicara soal jadi dokter, misalnya, tapi ajak anak atau murid bicara tentang kehidupan lebih nyata berupa menolong orang sakit. Dengan menggambarkan permasalahan kesehatan di masa datang, dengan melihat tantangan di lingkungan masa datang, bimbing anak atau murid untuk mencari celah menolong orang sakit. Kalau toh kelak si anak atau murid menjadi dokter beneran di masa datang, ia sudah mendapat banyak bekal bayangan visual tentang apa yang harus dikerjakan. Kalau seandaianya tidak jadi dokter, ia tetap tidak kehilangan visi mulia menolong orang sakit dengan cara-cara lain.

Dengan membicarakan kondisi kehidupan lebih nyata di masa depan, kita bisa membimbing anak atau murid ke arah skill yang akan mereka gunakan di masa datang. Dengan menguasai skill tertentu, anak di masa datang akan punya lebih sedikit karir tapi punya lebih banyak serangkaian peluang proyek kerja. Anak di masa datang tidak akan kaku terpaku pada karir tertentu, tapi lebih lentur menjalani hidup dengan skill-nya. Bahkan, anak bisa hidup dalam ceruk tertentu yang sangat khas karena skill-nya.

“Bukannya mengidentifikasi deskripsi atau peran pekerjaan di masa datang, lebih baik terus tambah skill berdasarkan apa yang membuat Anda lebih bisa menjalani kehidupan di masa datang,” begitu kata Jeanne Meister, penulis buku laris The Future Workplace Experience. “Kehidupan kerja di masa datang akan terdiri dari beberapa proyek jangka panjang atau beberapa tugas sekaligus yang sama-sama membutuhkan skill khusus.”

Terkait soal skill, Bill Gates sang pendiri Microsoft menyebut tiga yang bakal menentukan kesuksesan di masa datang. Berdasarkan data yang ia kumpulkan, tiga skill itu adalah sains, rekayasa teknik dan ekonomi praktis.

oleh : Teguh Wahyu Utomo
* Penulis adalah mantan wartawan Surabaya Post, praktisi media, trainer motivasional, penulis. Artikel ini pernah dipublikasikan di mepnews.id

Loading...

Post Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.