Belajar Banyak dari Ruang Hukuman
Info Baru Lho Iki Lak

Belajar Banyak dari Ruang Hukuman

Wanita kelahiran 1967 ini tak pernah menyangka akan menjadi seorang wartawati. Bagaimana tidak, dirinya yang notabene sarjana antropologi saat itu bahkan sempat bingung akan bekerja dimana. Tapi, justru melalui Surabaya Post inilah menjadi awal sekaligus tiket emas Onny Yoelyana dalam berkarir.

Semua berawal dari orangtua yang memang berlangganan Harian Surabaya Post. Suatu saat, Onny membaca iklan lowongan pekerjaan di harian sore itu.

Diakui, kebiasaannya membaca koran ini seolah membuat dirinya terasa sangat akrab dengan setiap paragraf tulisan yang tercetak. Akibatnya, Onny pun memutuskan untuk bergabung dengan Surabaya Post.

Tak pernah memiliki latar belakang pendidikan jurnalistik tentu membuatnya pernah mengalami masa sulit. Ia bahkan pernah tidak mengirimkan satu tulisan pun untuk dimuat.

“Dulu di tahun 90an, Jawa Timur pernah bekerjasama dengan Australia Barat. Sampai perdana menteri mereka ke Surabaya,” kenang Onny.

Ia lantas diminta membuat reportase khusus tentang dia. “Disuruh ikut kemanapun beliaunya berkegiatan. Karena banyak dan bingung akhirnya saya ndak tahu mau mengangkat yang mana. Ya sudah, besoknya tidak ada tulisan tentang si PM ini,” ujar ibu anak dua ini.

Biar sempat dapat teguran dari redaktur, hal itu tak membuatnya patah semangat.

“Akhirnya saya dihukum. Dimasukkan ke sebuah ruangan begitu, lalu di dalam ruangan itu ada banyak buku. Saya disuruh baca buku tentang jurnalistik. Nah, dari situlah saya banyak belajar,” imbuhnya.

Budaya kerja yang ada membuatnya bisa banyak. Inilah yang membuat Onny makin betah. Walau ia tergolong orang baru saat itu.

Tak pernah sekalipun ia merasa, “Aku bosan dengan bidang ini”. Bukan hanya itu, penanaman integritas serta kekeluargaan yang tinggi di Surabaya Post ternyata masih terkenang bahkan tertanam dalam kehidupan Onny hingga saat ini.

Hal lain di Surabaya Post yang juga berpengaruh pada karakter Onny adalah budaya diskusi. Masih teringat jelas bagi Onny bagaimana para senior mengajarkan berdiskusi secara profesional dalam sebuah rapat. Semua yang ingin disampaikan, harus sudah kelar saat rapat.

“Keluar ruangan, jangan ada kata baper,” candanya.

Dalam perjalanan karir, setiap orang pasti memiliki sosok figur tersendiri. Bahkan punya andil besar dalam jenjang karirnya. Wanita asli Surabaya ini bahkan menyebutkan tak hanya satu orang yang menjadi figurnya.

“Ada Zainal Emka, Yuleng, Zainuddin (fotografer senior), hingga mas Anies dengan tulisan features yang sangat bagus. Mereka semua punya gaya tulisan yang berbeda, peran masing-masing pula. Yang kemudian bisa mencetak saya. Onny dengan gaya tulisan sendiri,” papar wanita yang juga aktif dalam komunitas Selasa Berkebaya ini.

Perjalanan karirnya tak hanya berhenti setelah lulus menjadi alumni Surabaya Post. Onny masih berkecimpung di Berita Sore hingga Jatim News.

Meski begitu, Onny sempat memilih untuk beristirahat di tahun 2005. Namun, memiliki bekal jurnalistik ternyata mampu menghantarkan Onny pada karir yang lain. Selang setahun berlalu, Onny bekerja sebagai Marketing dan Komunikasi (Markom) di salah satu klinik kecantikan ternama Surabaya.

“Bercerita tentang Surabaya Post bagi saya selalu menyenangkan. Saya akan dengan sangat gembira bercerita bagaimana dulu ketika di sana,” tutupnya. (ayu)

Loading...

Post Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.