Banyak Cara Membangun Bangsa
Kolom

Banyak Cara Membangun Bangsa

Jumat pagi kemarin saya bertemu Dahlan Iskan di Graha Pena, kemudian saya diajak ke rumahnya untuk sarapan bareng. Di sela-sela sarapan tentu saja banyak obrolan yang ringan maupun yang serius. Dahlan bercerita, bahwa selama menjalani persidangan-persidangan, dia tidak pernah memikirkan perkaranya. “Biarlah itu dipikirkan oleh pengacara saya. Kalau saya memang harus masuk penjara, ya sudahlah tidak apa-apa,” katanya. Dahlan malah memikirkan dan sedang membangun banyak hal: terlibat proyek anak-anak muda Bojonegoro, membantu para ahli nuklir UGM untuk membangun reaktor, mendirikan pabrik sterilisasi produk kesehatan di Jawa Timur, membangun Dahlan Iskan Centre for Modern Agriculture yang fokus pada memajukan pertanian dan kesejahteraan petani.

Wow, banyak sekali yang dipikirkan, untuk seorang terhukum (tahanan dalam kota). Ternyata, meskipun dinyatakan bersalah dan menjalani hukuman, semangat mengabdi Dahlan tidak pernah mati. Dia sudah ikhlas dan siap dihukum bahkan dipenjara, tetapi pikirannya tidak berhenti berinovasi. Ada saja hal-hal baik yang direncanakan dan dikerjakan. Membangun bangsa memang banyak caranya. Seharusnya kita yang segar bugar dan tidak sedang mengalami kasus hukum malu bila tidak pernah berbuat atau berpikir untuk bangsa.

Saya menanyakan komentarnya tentang persoalan Ahok dan Hizbut Tahir Indonesia yang sedang menjadi perbincangan di masyarakat. Dahlan mengatakan bahwa ideologi khilafah tak akan laku di masyarakat Indonesia. Masyarakat masih percaya bahwa demokrasi adalah satu-satunya jalan untuk persamaan hak dan kewajiban warga negara. Namun, agar demokrasi berjalan baik, syaratnya dua: 1) hukum harus dijalankan secara benar, 2) kaum minoritas mesti rendah hati dan tahu diri, kaum mayoritas harus lebih toleran dan pemaaf. Tampaknya formula demokrasi ala Dahlan Iskan ini mudah, namun terbukti kita sebagai bangsa masih bermasalah hingga saat ini. Di ranah hukum, yang salah jadi benar yang benar bisa jadi salah. Di ranah minoritas-mayoritas, masing-masing masih menonjolkan egonya. “Saya kan mayoritas, jadi sudah pasti benar,” kata si mayoritas. “Saya kan minoritas, jadi harus dilindungi,” kata si minoritas. Satu contoh yang diajukan Dahlan Iskan, mengapa sih, memaksakan Ahok jadi gubernur? Kan ada banyak calon lain yang sama baiknya atau lebih baik? Dahlan setuju bahwa Ahok pejabat yang baik. Tapi bila harus dibayar dengan pecahnya bangsa dengan begitu runcing, akan lebih baik bila tak ada pemaksaan wacana Ahok jadi gubernur DKI.

Kami juga membicarakan Revolusi Mental, yang sulit diukur implementasinya. Nyatanya, mental bangsa Indonesia (yang direpresentasikan oleh para wakil rakyat di DPR, para pejabat negara, dan para public figure) masih memble. Ada tokoh agama yang sangat kharismatik, tetapi memimpin doa jelek-jelek untuk lawan-lawan politiknya. Ada tokoh politik yang telah dikeluarkan dari partainya, tapi masih duduk manis di kursi pimpinan DPR. Ada wakil rakyat yang percaya bahwa “korupsi itu vitamin pembangunan”. Ada yang korupsi berjamaah (E-KTP), dll, dst. Sudah 3 tahun Jokowi memimpin bangsa ini dengan slogan “Revolusi Mental”nya, namun sepertinya mental bangsa kita belum membaik, apalagi sampai revolusi. Sudirman Said yang membongkar “Papa minta saham” saja langsung dilengser. Para pejabat menjadi ragu untuk berbuat benar. Di lain pihak, para jaksa semakin aktif mencari dan menemukan perkara. Kasus Dahlan Iskan hanya satu puncak gunung es (artinya, lebih banyak lagi orang tak benar-benar bersalah tetapi ditemukan kesalahannya oleh jaksa). Kesalahan prosedur misalnya, memang harus dipertanggungjawabkan. Namun kesalahan pimpinan tanda tangan tentu berbeda dengan kesalahan koruptor yang sebenarnya.

“Banyak tamu datang ke rumah saya, di antaranya ada yang mengajak-ngajak untuk revolusi,” ujar Dahlan, setengah bercanda, ketika saya menanyakan apa kegiatannya sehari-hari sebagai tahanan kota. Bicara revolusi, seseorang akhirnya akan memutuskan untuk terjun mengupayakan dan melakukan perubahan bila sudah tak tahan menyaksikan kesewenang-wenangan terjadi di hadapannya. Bila revolusi mental semakin kabur maknanya, mungkin bisa dimulai dengan revolusi pemikiran.

Arthur (dalam film King Arthur, the Legend of the Sword) pada mulanya memang skeptis bahkan apastis menjalani hidupnya yang keras. Sebagai anak raja yang terbuang (ayah ibunya dibunuh sang paman), Arthur menjalani hidup yang keras di rumah pelacuran. Pengalamannya itu -ditambah ‘gen’nya sebagai keturunan raja- menjadikannya sosok yang tegar dan disegani. Namun dia menolak semua desakan untuk “revolt”, untuk mengangkat pedang dan menurunkan tirani sang paman yang merebut tahta ayahnya. Arthur baru mau angkat pedang ketika banyak orang terkasihnya terbunuh dan banyak rakyat jadi korban.

Dahlan Iskan belum atau sedang bersiap-siap mengangkat pedang. Yang jelas, Dahlan tetap berpikir dan bertindak membangun bangsa di segala lini yang mungkin. Apa yang sudah kita kerjakan?

oleh : Sirikit Syah
Artikel ini pernah muncul di Harian Duta Masyarakatt
* Penulis adalah mantan wartawan Surabaya Post

Loading...

Post Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.