Bambang Soen dan Uang Bensin dari Pejabat
Info Baru Nostalgia

Bambang Soen dan Uang Bensin dari Pejabat

Usai membuat liputan khusus tentang bangdes atau pembangunan desa di Tuban, Jawa Timur, Bambang Soen tiba-tiba dipanggil salah satu pejabat. Bagi wartawan Surabaya Post ini, dipanggil nara sumber sebelum liputan tayang di koran jadi hal biasa.

Tujuannya kalau tidak anjuran ini itu ya amplop. “Ini buat beli bensin ya,” kata si pejabat, benar-benar sesuai dugaan. Bambang manggut-manggut dan menerimanya. Si pejabat langsung senang. Upaya ‘pengkondisian’ berhasil.

Bambang kemudian pergi ke pom bensin sambil bawa jirigen. Uang dari si pejabat dipakai beli bensin. Pada petugas di pom ia menitip kalimat pendek, “Ini pesenan Pak A. Tolong di antar”.

Besoknya Bambang dapat komplain, “Itu buat sampeyan. Lha ngapain kirim bensin ke saya”. Bambang pun menyahut tanpa merasa bersalah, “Lho katanya buat beli bensin”.

“Tiap ingat itu saya ketawa. Lha yo, wartawan kok mau dibeli. Ya saya nyamin saja. Dikasih uang bensin ya saya belikan bensin. Habis itu saya ketawa nggak berhenti,” kenang pemilik nama lahir Bambang Sunarjanto ini.

Di temui di sebuah warung kopi lesehan di Terminal Rajekwesi Bojonegoro, Bambang yang sejak 1999 banting setir dari jurnalis ke politisi ini kemudian bercerita panjang. Di antaranya lika-liku dia saat aktif sebagai koresponden di Surabaya Post.

Sebelum bergabung bareng Zed Abidien, Budiono Darsono, Djajus Pete, Slamet Agus Sudarmojo, Yusuf Susilo Hartono, dan masih banyak lagi yang lain, Surabaya Post biro daerah hanya diisi staf humas pemerintahan.

“Itu dalam arti sesungguhnya. Bukan wartawan yang liputan di pemkab atau pemkot. Tapi memang staf humas. Mereka dibayar khusus untuk meliput kegiatan bupati dan walikota,” jelasnya.

Lalu selaras dengan kebijakan halaman daerah yang saat itu dikendalikan Zainal Arifin Emka, koran daerah seolah berubah 180 derajat. Isinya konten investigasi dan features. “Kalau features ini jagonya Mas RM Yunani yang saat itu bertugas di Lumajang,” kata Bambang.

Sebagai koresponden di Tuban, Bambang berulang kali menyuguhkan karya jurnalistik berbasis investigasi. Akibatnya, beberapa kali dia harus berkejaran dengan ancaman bahkan maut.

Ia pernah dianiaya pengusaha furnitur yang menggunakan kayu curian. Ia juga pernah ‘diadili’ warga sebuah pondok di Paciran.

“Kasus Paciran ini ada hubungannya dengan liputan saya tentang pemberangkatan TKI ilegal. Tapi saya bilang, saya kan tidak menyebut nama pondoknya. Hanya Pondok Paciran. Salah saya dimana?” tawanya.

Seperti wartawan lain, saat melakukan investigasi Bambang juga kerap menemukan data kelas kakap. Hasil yang sesungguhnya tak pernah terbayangkan. Semisal, ia pernah meliput penambang batu di Tuban yang menggunakan dinamit.

Di tengah investigasinya dia diminta datang, bertemu sejumlah pejabat militer dan kepolisian. “Saya sempat bingung. Ada apa? Ternyata pelaku tambang dengan dinamit ini masih saudara salah satu tokoh militer di Jawa Timur. Ya mana saya tahu?” katanya.

Kasus lain, Bambang juga pernah mengungkap penggelapan pajak yang dilakukan tokoh berpengaruh di Tuban. Liputan ini jelas bikin gerah sang tokoh. Bambang dipanggil. Kali ini bukan untuk diancam, tap justru dapat hadiah rumah.

“Saya bilang, saya masih kuat bayar cicilan rumah,” jawabnya. Respons semacam ini, kata Bambang, sesungguhnya jauh lebih berat ketimbang ancaman fisik. Jika tak hati-hati, wartawan bisa tergelincir dan tak bisa bangkit.

Dia akan tetap berjalan dengan predikat wartawan amplop, bahkan saat ia berhenti. Itu sebabnya, saat mertua Bambang bilang ke istrinya, “Bambang kok gak bisa seperti wartawan lain. Yang rumahnya bagus, kaya. Bisa jalan-jalan sama keluarga”.

Bambang hanya berkata, “Saya bisa dapat duit lebih banyak dari mereka. Liputanku jauh lebih berpeluang dapat duit besar. Tapi buat apa? Saya, istri saya, anak-anak saya, nanti akan tidak punya kehormatan. Selamanya akan hidup dan berjalan tanpa kehormatan”.

Loading...

Post Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.