Alhamdulillah, Cak Sentot Makin Sehat Saja
Info Baru Lho Iki Lak

Alhamdulillah, Cak Sentot Makin Sehat Saja

Kami sama-sama Veteran Surabaya Post. Beda angkatan saja. Saya (X6/hdw) gabung Surabaya Post pada 1985, almukarom Sentot Nurachman gabung pada 1989, ketika saya sudah hengkang ke Berita Buana Jakarta, ngintil Mas Budiono Darsono alias BDI.

“Aku mlebu SP, nunggu lulus kuliah sik Wan,” cerita Cak Sentot, berusaha membongkar memori lamanya.

“Tapi aku lali kode atau inisialku opo disik di SP,” sambar Cak Sentot sambil menoleh ke istrinya, Syahbandiyah Esa (DADIT), pensiunan MEMO, yang kebetulan saya kenal baik karena dia Wong Pati juga.

Kami juga sama-sama jadi orang-orang Terpilih (pilihan Allah Ta’ala) untuk menderita Stroke. Bedanya, saya stroke lewat proses mati suri enam hari enam malam dulu di lantai, tanpa diketahui orang.

Sentot, bergejala dulu dan langsung dilarikan ke RS di Sidoarjo. Beda lain, begitu rada siuman, ketika di jenguk teman-teman alumni SMPnya, ditunjukin foto2.

“Aku cuma senyam-senyum dan tertawa, gak reti sing diomongno arek-arek opo. Lali kabeh,” cerita Sentot, dibenarkan istrinya.

Saya coba cari tahu, apakah ada gangguan pada memori ingatannya. Cak Sentot butuh 8 hari terbaring di RS untuk menjinakkan strokenya, saya 9 hari di RS Mardi Rahayu Kudus. Hari ke 9 saya praktis sudah tidak terbaring di RS, karena saya nyempot alias keluar dari ruangan perawatan secara ilegal, untuk cari siomai atau bakso, andok kopi dan udut Djarum Super.

Sentot tak tes memorinya, “Jik eling, selama Di SP pernah dengar nama Sapto Anggoro, Budiono Darsono?”

“Yo eling lah Sapto dan Budi lak sing dho ngetop dan sugih di Jakarta tho?” jawabnya.

Gimo Hadiwibowo, eling? “Gimo eling aku, kurir tho? Lha Hadiwibowone kui aku sing gak eling blas. Sorry kang, iku arek siji ta?” jawabnya lagi.

Oke, pean begitu balik rumah, sholate duduk opo normal? “Normal koyok wong-wong dho sholat. Cuma aku lali bacaane,” jawab Cak Sentot.

“Waduh, moco ayat-ayat pendek ae, sing kul-kul iku lho cak. Al Ikhlas (Kulhu), Al Fatihah, An Nas dan lain-lain,” nasihatku sok religius bin ngulama.

“Lali aku wan,” aku Cak Sentot.

Waduh. Sampean, masih dicintai Allah lho cak, aku metu RS, sholat ga normal alias duduk saja. “BAB kudu kloset duduk, sikil kiri Gak iso ditekuk, lempeng, nek mplaku nyeret,” kata saya.

Alhamdillah setelah dijapa-jopu Kyai Dr. Gofur dari Ponpes Sunan Drajat, dianter almarhum Pak Wiek Herwiyatmo, dianter ke ponpes-ponpes di Jombang dan Bojonegoro oleh Cak Yusron Aminullah, kaki kiriku isa ditekuk, dan bisa sholat normal. Tapi jalan, kaki kiri masih nyeret.

Sekarang, ketika catatan ini aku buat di Surabaya, kaki kiriku ga nyeret lagi kalau jalan. Alhamdulillah, mungkin berkat perantara obat yang dibelikan Gus Sapto via Rokim Dakkas.

Oh iya. Saya stroke tangan dan kaki kiri (darah tinggi), Cak Sentot stroke kaki kanan (kolesterol) dan TG (Tri Gliserit) tinggi.

Pesan saya ke Cak Sentot (yang sanggup berhenti merokok dan ngopi), sebelum pamitan, semalam ketika berkunjung ke rumahnya.

Kita ini orang-orang terpilih cak, semangat! Istiqomah, sumeleh, Allah mencintai kita, dan mungkin berkehendak menugasi kita pada etape kedua. Kenapa? Karena menurut dokterku di RS, “Anda ini secara medis telah almarhum’.

Wis ngono wae yo. Selalu ingat banyak teman kita yang kena serangan pertama atau kedua, langsung mangkat merantau ke Akhirat. Tajamkan radar imunitas, kenali tanda-tanda serangan kedua, dan cobalah kenali dan berusaha menangkisnya.

Karena stroke itu laksana Perang Paregrek antara Wikrama Wardana (Damar Wulan) vs bre Wirabumi (Minak Jinggo), yang membuat Majapahit terbelah jadi dua, Majapahit Wetan dan Majapahit Kulon, yang bahkan kemudian membuat Majapahit hilang dari peta.
Selalu ada serangan kedua dan ketiga.

Oleh karena analogi Perang Paregrek itu pula, saya meninggalkan pesan pada Cak GBS, menjelang pamit pulang, “Alhamdulillah. Syukuri Tot, koen selamat dari serangan kedua. Ojok lali dzikir dan istighfar, ketika ada tanda-tanda gak beres pada imunitasmu. Baca kalimah tauhid ‘Lailahaillallah, Astagfirullah’ terus tanpa henti, sampe rasa nyaman dalam dirimu balik sedia kala.

Sunan Bonang itu nyaris tidak pernah sakit. Karena setiap malam selama tiga tahun, dia ndremimil baca wirid, ‘Ya Hayyu, Ya Qoyyum’.

oleh : Iwan Hadi Wirawan
* Penulis adalah mantan wartawan Surabaya Post

Loading...

Post Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.